Kota Berketahanan Iklim
yang Inklusif

Kota Ternate dan Mataram Berbagi Rencana Aksi Iklim dengan Mitra Internasional CRIC

Kota Ternate dan Mataram, keduanya adalah kota pelopor Climate Resilient and Inclusive (CRIC) menginformasikan status terkait rencana adaptasi dan mitigasi iklim kepada mitra internasional CRIC: Pilot4DEV dan ACR+, dalam forum dialog daring Kamis, 23 Juni, 2022. Proyek CRIC adalah proyek yang didanai oleh Uni Eropa dan diimplementasikan oleh UCLG ASPAC.

Daam acara yang difasilitasi oleh Aniessa Delima Sari, Regional Project Manager, United Cities and Local Governments Asia Pacific (UCLG ASPAC), kedua kota tersebut mendiskusikan berbagai inisiatif guna mengurangi emisi gas rumah kaca dan beradaptasi terhadap dampak negatif dari perubahan iklim berdasarkan profil risiko masing-masing kota.

Sebagai contoh, Kelompok Kerja (Pokja) Perubahan Iklim di Ternate telah menyiapkan rencana aksi iklim berdasarkan profil risiko kota tersebut yang tinggi terhadap bencana – yang menjadi alasan mengapa Ternate menjadi salah satu ota pelopor Proyek CRIC. Bencana di Ternate termasuk bencana geologis (letusan gunung berapi dan tsunami) dan bencana hidrometeorologis (cuaca dan gelombang ekstrem) yang memicu abrasi di Kawasan pesisir yang luar biasa sehingga memerlukan penanganan yang seksama.

Dalam Laporan Analisis Perkotaan (Urban Analysis Report) 2020 Kota Ternate menerima rekomendasi-rekomendasi untuk mengurangi polusi udara, limbah dan mengembangkan sistem peringatan dini kota untuk mengantisipasi dampak berbahaya dari perubahan Iklim. Menurut tim kelompok kerja perubahan iklim, terdapat 10 kelurahan di Kota Ternate yang rentan terhadap cuaca ekstrem. Kota Ternate sadar akan pentingnya rencana dan aksi adaptasi dan mitigasi iklim. Dokumen-dokumen tersebut nantinya akan mendukung rencana aksi iklim nasional di Ternate.

Ternate telah membangun tembok-tembok penahan ombak, khususnya di bagian utara kota, guna melindungi perumahan dan komunitas di wilayah pesisir dari abrasi. Kota Ternate juga akan membangun sistem peringatan dini menggunakan kearifan lokal dengan memanfaatkan peralatan seperti TOA atau pengeras suara dari mesjid-mesjid untuk menyampaikan informasi ke komunitas jika memungkinkan.

Untuk Kota Mataram, Mataram dilanda gempa bumi pada tahun 2018 dan terus mengalami bencana akibat ulah tangan manusia yaitu sampah yang terus menumpuk. Walikota Mataram telah mengeluarkan kebijakan terkait perencanaan adaptasi dan mitigasi dan telah dituangkan ke dalam perencanaan jangka menengah kota.

Kota Mataram, dengan bantuan pelatihan adaptasi CRIC, juga telah menciptakan profil risiko iklim dan mengenali 50 kelurahan di Mataram yang berisiko terdampak curah hujan ekstrem.

Mataram kini tengah mencoba mengintegrasikan biodigester dan maggots dan bekerja bersama komunitas menangani masalah sampah. Pemerintah kota telah menyiapkan lokasi dan kota memerlukan dukungan lebih lanjut dari pemangku kepentingan relevan dan mitra-mitra CRIC. Kota Mataram telah mendapatkan pelatihan-pelatihan dari beberapa institusi termasuk PT.SMI guna memperoleh pendanaan. Tim Kota Mataram juga menyebutkan bahwa kota ini telah menyiapkan konsep pengolahan limbah menjadi energi dan tertarik untuk memiliki proyek percontohan dalam pengolahan limbah menjadi energi.

Mitra-mitra internasional CRIC berharap bisa melanjutkan interaksi dan kerja sama berlandaskan dokumen-dokumen berharga yang telah dihasilkan untuk berpartisipasi langsung dalam pembangunan di Indonesia. Mitra-mitra CRIC juga ingin mengunjungi Kota Ternate dan Mataram yang indah dan menyadari bahwa masih ada kesenjangan antara hasil dari studi perkotaan dan kenyataan di lapangan.

--##--

Kontributor: Aniessa Delima Sari (UCLG ASPAC Regional Project Manager), Yusak Subnafeu (CRIC Field Officer for Mataram and Kupang), Muhamad Rizki Satria (CRIC Field Officer for Gorontalo and Ternate), Abimanyu Arya (CRIC Internship), Aditya Pratama Nugraha Akbar (CRIC Project Internship) 

Share This

CRIC
Kerjasama unik antara kota, pejabat, organisasi masyarakat sipil, dan akademisi menuju kota yang tangguh dan inklusif.

Didanai oleh UE

CRIC
Proyek ini didanai oleh Uni Eropa

Kontak

Aniessa Delima Sari

Pascaline Gaborit