Kota Berketahanan Iklim
yang Inklusif

Kota-Kota Pelopor CRIC Paparkan Masalah Lingkungan Seiring Perubahan Iklim

Kota Kupang dan Pekanbaru memaparkan masalah-masalah lingkungan seiring terjadinya perubahan iklim. Masalah-masalah ini diungkapkan saat forum dialog daring antara Kelompok Kerja Perubahan Iklim dari Kota Kupang dan Kota Pekanbaru dengan mitra-mitra Climate Resilience and Inclusive Cities (CRIC), Rabu, 29 Juni 2022.

Perwakilan dari Kelompok Kerja Perubahan Iklim Kota Pekanbaru, Dody Rinaldi, dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah menyatakan Kota Pekanbaru tengah mengalami efek pulau panas di perkotaan (urban heat island) sebagai dampak dari alih guna lahan dan lingkungan yang juga memperburuk efek perubahan iklim – seperti kenaikan suhu dan kondisi cuaca ekstrem – di daerah.

Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat menjelaskan bahwa efek pulau panas perkotaan ini terjadi ketika kota mengganti atau mengalihgunakan tutupan lahan alami mereka menjadi trotoar yang padat, bangunan, dan permukaan lain yang menyerap dan menahan panas. Dampaknya, biaya energi (e.g., untuk pendingin ruangan) meningkat demikian juga polusi udara,  penyakit serta kasus kematian yang terkait dengan panas.

Untuk mengatasi masalah tersebut, Pemerintah Kota Pekanbaru menginisiasi sejumlah program dengan bantuan dari pelatihan mitigasi dan adaptasi CRIC guna mengurangi polusi gas rumah kaca dan kerentanan iklim lainnya. Pemerintah kota saat ini terus menandai berbagai inisiatif yang mendorong aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.

Kota Pekanbaru terletak di tengah jalur timur Sumatra berbatasan dengan kota-kota besar seperti Medan, Padang dan Jambi dan dekat dengan dua negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. Kota Pekanbaru telah menjadi pusat perdagangan lokal dan regional yang strategis dan diproyeksikan menarik investasi besar di masa datang. Kota ini juga mengalami peningkatan urbanisasi yang semakin membebani lingkungan di perkotaan.

Seperti yang terjadi di kota-kota lain, salah satu masalah yang dihadapi oleh Pekanbaru adalah penumpukan sampah. Hanya 73% sampah di kota ini yang berhasil diangkut dan dikumpulkan. “Kami juga telah menjajaki kemungkinan untuk membangun fasilitas pengolahan sampah menjadi energi dan kami memerlukan bantuan teknologi baru untuk itu,” tutur Dody. Pekanbaru juga tengah memperluas ruang terbuka hijau, menyelesaikan pembangunan IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) dan membangun sistem peringatan dini berdasarkan profil kerentanan iklim mereka. Implementasi Proyek CRIC di Pekanbaru saat ini didukung oleh Surat Keputusan Walikota No.40/2022.

Kupang

Sementara itu di Kota Kupang, profil kerentanan iklim kota terlihat dari kondisi iklim tahunan kota. Musim kemarau di Kota Kupang berlangsung hingga 8 bulan sedangkan musim hujan terjadi selama 4 bulan. Penduduk kota mengalami kesulitan menemukan sumber air yang berkualitas sehingga mempengaruhi sanitasi mereka.

Pelatihan CRIC di Kupang telah menghasilkan informasi penting terkait inventarisasi Gas Rumah Kaca dan skenario mitigasi iklim. Dari sektor energi, emisi GRK diperkirakan menurun pada 2030. Akan tetapi, dari sektor limbah, emisi GRK akan meningkat dalam periode yang sama.

Kota ini telah melaksanakan beberapa rekomendasi dari Laporan Analisis Perkotaan yang dihasilkan pada tahun 2020 namun kurangnya pendanaan dari pemerintah kota telah menghambat potensi adopsi dari rekomendasi-rekomendasi tersebut.

Pascaline Gaborit, Pendiri Pilot4Dev, saah satu Mitra CRIC tertarik untuk melihat bagaimana Kota Kupang mengatasi masalah yang berhubungan dengan air, energi, dan iklim.

Perwakilan dari Kelompok Kerja Perubahan Iklim Kupang, Vebronia Solo dan Nofdy Pono menyatakan bahwa kota memiliki kesempatan untuk melibatkan kelurahan dalam inisiatif Kampung Iklim. “Sebagian besar kelurahan di Kota Kupang berada di pinggiran kota dan masih memiliki lahan untuk ditanami untuk menyumbang aksi mitigasi dan adaptasi iklim.”

Program Kampung Iklim mendorong masyarakat untuk melindungi mata air mereka, tidak menebang pohon, atau membakar jerami atau sampah pertanian lainnya. Masyarakat juga diminta untuk menyimpan air dengan membuat sumur resapan air.

Menjawab pertanyaan Prof. Isabelle Milbert, Presiden Pilot4Dev tentang pengelolaan sampah dan pencegahan polusi, perwakilan dari kelompok kerja perubahan iklim Kupang menyatakan bahwa kota masih mencoba untuk memperbaiki sistem pengelolaan sampah dengan menyediakan fasilitas pengumpulan sampah sementara yang lebih banyak, mengembangkan bank sampah dan mempromosikan aksi 3R (Reduce, Reuse dan Recycle).

Kota juga telah menyediakan anggaran untuk program langit biru untuk menguji emisi kendaraan dua kali dalam setahun dan mendorong masyarakat untuk menggunakan sistem transportasi publik. ”Kami memiliki jalur BRT (Bus Rapid Transit) baru yang mendorong masyarakat menggunakan transportasi publik dan transportasi pengumpan, seperti bus mini yang bisa masuk ke jalan-jalan kecil.”

Forum dialog daring ini memberikan kesempatan kepada mitra CRIC untuk memahami inisiatif-inisiatif di kota-kota pelopor. Forum untuk dua kota pelopor CRIC terakhir yaitu Samarinda dan Banjarmasin akan dilaksanakan dalam beberapa minggu ke depan.

--##--

Kontributor: Aniessa Delima Sari (UCLG ASPAC Regional Project Manager), Abimanyu Arya (CRIC Internship), Aditya Pratama Nugraha Akbar (CRIC Project Internship).

 

Share This

CRIC
Kerjasama unik antara kota, pejabat, organisasi masyarakat sipil, dan akademisi menuju kota yang tangguh dan inklusif.

Didanai oleh UE

CRIC
Proyek ini didanai oleh Uni Eropa

Kontak

Aniessa Delima Sari

Pascaline Gaborit