Kota Berketahanan Iklim
yang Inklusif

Aniessa Delima Sari, Regional Project Manager, United Cities and Local Governments Asia Pacific (UCLG ASPAC) mewakili CRIC Project menghadiri Lokakarya Pertukaran Pengetahuan Un Eropa-ASEAN yang Pertama bertema Kota Hijau dan Cerdas, di Pullman Hotel, Jakarta, Indonesia, Jumat, 22 Juli 2022.

Kota telah mengidentifikasi aksi-aksi yang bisa meningkatkan ketahanan iklim. Pengarusutamaan aksi-aksi yang menunjang terciptanya ketahanan iklim akan menjadi prioritas kota di masa datang. Pernyataan ini diutarakan oleh Basuni, perwakilan kelompok kerja perubahan iklim Samarinda dari Dinas Lingkungan Hidup dalam forum dialog daring antara Kota-Kota Pelopor CRIC dan mitra, pada Kamis, 7 Juli 2022.

Kota Bandar Lampung identifikasi kerentanan kota terhadap perubahan iklim dalam forum dialog daring yang dilaksanakan bersama dengan mitra CRIC (Climate Resilient and Inclusive Cities) pada Rabu, 29 Juni 2022 lalu.

Kota Kupang dan Pekanbaru memaparkan masalah-masalah lingkungan seiring terjadinya perubahan iklim. Masalah-masalah ini diungkapkan saat forum dialog daring antara Kelompok Kerja Perubahan Iklim dari Kota Kupang dan Kota Pekanbaru dengan mitra-mitra Climate Resilience and Inclusive Cities (CRIC), Rabu, 29 Juni 2022.

“Saya berharap kota-kota pelopor CRIC tidak mengulangi kesalahan yang dilakukan oleh kota-kota di Eropa selama satu abad terakhir,” ucap Sara Silva, Koordinator Proyek Ecolise dalam forum dialog daring antara kota-kota pelopor dan mitra internasional CRIC, Selasa, 28 Juni 2022.

Kota Ternate dan Mataram, keduanya adalah kota pelopor Climate Resilient and Inclusive (CRIC) menginformasikan status terkait rencana adaptasi dan mitigasi iklim kepada mitra internasional CRIC: Pilot4DEV dan ACR+, dalam forum dialog daring Kamis, 23 Juni, 2022. Proyek CRIC adalah proyek yang didanai oleh Uni Eropa dan diimplementasikan oleh UCLG ASPAC.

“Keterlibatan (organisasi pemerintah daerah) dari bawah menjadi inti pelatihan mitigasi ketiga ini.” Pernyataan itu disampaikan oleh Raindras Dwiarsa, staf Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH) XIV Kupang saat diwawancara oleh CRIC Project, jumat, 17 Juni, saat menghadiri hari ketiga pelatihan mitigasi iklim di Hotel Sotis, yang difasilitasi oleh Climate Resilient and Inclusive Cities (CRIC) Project.

Kota Gorontalo mendapatkan Pelatihan Rencana Aksi Adaptasi Perubahan Iklim pertama (A1) dari Proyek Climate Resilient and Inclusive Cities (CRIC). Pelatihan ini berlangsung dari tanggal 2 hingga 8 Juni 2022, di Gorontalo, Sulawesi Utara. Pelatihan adaptasi iklim ini didukung oleh 2 badan riset Indonesia yaitu CCROM dan Universitas IPB.

Dukungan keuangan menjadi isu penting dalam upaya global untuk mengatasi perubahan iklim, sebagaimana ditekankan pula dalam COP26. Hal ini terefleksikan dalam pemberitaan di media Indonesia dua bulan terakhir. Dalam Media Monitoring edisi Desember kali ini, isu pembiayaan iklim masih menjadi isu nasional, bersama juga dengan kebijakan pendukunganya. Kami menemukan pemberitaaan perubahan iklim di media berkutat dalam empat tema berikut.

Climate Resilient and Inclusive Cities menggulirkan Pelatihan Penyusunan Rencana Aksi Iklim (RAI) yang diikuti 267 perwakilan pemerintah daerah di sembilan kota di tahun 2021. Hal ini menjadi tonggak penting dalam upaya membangun kapasitas pemerintah daerah dalam membangun ketahanan iklim. Kegiatan ini juga menjadi pengingat akan pentingnya konvergensi aksi perubahan iklim dengan upaya pengurangan risiko bencana untuk mencapai pembangunan yang berkelanjutan.

Share This

CRIC
Kerjasama unik antara kota, pejabat, organisasi masyarakat sipil, dan akademisi menuju kota yang tangguh dan inklusif.

Didanai oleh UE

CRIC
Proyek ini didanai oleh Uni Eropa

Kontak

Aniessa Delima Sari

Pascaline Gaborit