{"id":2401,"date":"2023-02-20T20:25:00","date_gmt":"2023-02-20T13:25:00","guid":{"rendered":"https:\/\/dev.resilient-cities.com\/?p=2401"},"modified":"2024-12-10T20:28:34","modified_gmt":"2024-12-10T13:28:34","slug":"cric-partners-visit-pilot-cities","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/resilient-cities.com\/id\/cric-partners-visit-pilot-cities\/","title":{"rendered":"Mitra CRIC Mengunjungi Kota Percontohan"},"content":{"rendered":"<p class=\"wp-block-paragraph\">Rencana mitra Climate Resilient and Inclusive Cities (CRIC) untuk mengunjungi kota-kota percontohan CRIC akhirnya terwujud antara 19-28 Februari 2023, dua bulan setelah Pemerintah Indonesia melonggarkan pembatasan COVID-19 pada 30 Desember 2022.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Climate Resilient and Inclusive Cities (CRIC) adalah proyek 5 tahun yang dilaksanakan oleh UCLG ASPAC bekerja sama dengan organisasi mitra (Pilot4Dev, Universite Gustave Eiffel, ACR +, ECOLISE, dan AIILSG) dengan dukungan pendanaan dari Uni Eropa.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">CRIC memberikan dukungan teknis kepada pemerintah daerah untuk memperkuat kapasitas pemerintah daerah meningkatkan ketahanan kota terhadap dampak perubahan iklim. CRIC yang diimplementasikan di 10 (sepuluh) kota sasaran ini telah berlangsung sejak tahun 2020.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Untuk mencapai tujuannya, CRIC memiliki tiga pilar, yaitu: (i) produksi dan pertukaran pengetahuan; (ii) rencana aksi iklim; dan (iii) peningkatan kapasitas dan komunikasi. Salah satu kegiatan pada pilar pertama adalah pengembangan laporan analisis perkotaan yang telah selesai pada tahun 2020 di semua kota CRIC yang disusun melalui kajian literatur dan diskusi daring. Laporan tersebut juga berisi isu-isu prioritas di setiap kota beserta rekomendasi kebijakannya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kegiatan lain dalam pilar yang sama adalah tindak lanjut dari laporan analisis perkotaan, di mana setiap kota memilih satu isu untuk diatasi dan menciptakan solusi untuk mengatasi tantangan tersebut. Kegiatan ini dimulai segera setelah selesainya laporan analisis perkotaan melalui FGD online.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Kunjungan ke Kota Percontohan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Langkah selanjutnya adalah kunjungan ke kota-kota percontohan CRIC untuk memahami detail tentang tantangan dan peluang mengembagkan solusi masalah di tingkat kota. Namun, kunjungan tersebut tertunda karena pandemi COVID-19.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">COVID-19 telah menghambat proyek secara signifikan, karena Mitra CRIC di Eropa dan Asia Selatan tidak dapat melakukan perjalanan selama periode COVID-19.\n\nPasca COVID-19, Proyek CRIC kembali berkoordinasi dengan mitra setelah pembatasan perjalanan dicabut dan akhirnya bisa mengatur kunjungan ke kota-kota percontohan CRIC tahun ini dari tanggal 19-28 Februari 2023.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dengan kunjungan ini, Mitra CRIC berusaha memahami tantangan dan peluang terkait isu-isu terpilih di masing-masing kota; yaitu: pengelolaan sampah, sistem peringatan dini, pengelolaan air, penyediaan air dan sanitasi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selama kunjungan, mitra CRIC didampingi oleh petugas lapangan dan tim manajemen CRIC. Tim bertemu dengan instansi dan pihak terkait dari pejabat kota, universitas, dan organisasi non-pemerintah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tim juga mengunjungi beberapa lokasi guna mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif tentang masalah dan peluang yang terkait dengan isu-isu tematik yang dipilih.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>@CRICProject<\/strong><\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Rencana para mitra CRIC untuk mengunjungi kota-kota percontohan CRIC akhirnya dapat direalisasikan pada tanggal 19-28 Februari 2023, dua bulan setelah Pemerintah Indonesia melonggarkan pembatasan COVID-19 pada tanggal 30 Desember 2022. Climate Resilient and Inclusive Cities (CRIC) merupakan inisiatif 5 tahun yang dilaksanakan oleh UCLG ASPAC bersama organisasi mitranya (Pilot4Dev, Universite Gustave Eiffel, ACR+, ECOLISE, dan AIILSG) dengan dukungan<\/p>","protected":false},"author":1,"featured_media":2412,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[26],"tags":[],"class_list":["post-2401","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/resilient-cities.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2401","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/resilient-cities.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/resilient-cities.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/resilient-cities.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/resilient-cities.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2401"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/resilient-cities.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2401\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/resilient-cities.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2412"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/resilient-cities.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2401"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/resilient-cities.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2401"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/resilient-cities.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2401"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}