{"id":2402,"date":"2023-03-06T20:25:00","date_gmt":"2023-03-06T13:25:00","guid":{"rendered":"https:\/\/dev.resilient-cities.com\/?p=2402"},"modified":"2024-12-10T20:30:11","modified_gmt":"2024-12-10T13:30:11","slug":"cric-pilot-cities-meet-partners-in-first-discussion-panel-in-surabaya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/resilient-cities.com\/id\/cric-pilot-cities-meet-partners-in-first-discussion-panel-in-surabaya\/","title":{"rendered":"Kota Dan Mitra CRIC Ikuti Panel Diskusi CRIC Yang Pertama Di Surabaya"},"content":{"rendered":"<p class=\"wp-block-paragraph\">Proyek Climate Resilient and Inclusive Cities berhasil menyelenggarakan Panel Diskusi CRIC yang Pertama di Surabaya dari tanggal 1-3 Maret 2023. Acara ini dihadiri oleh para pemangku kepentingan dari kota percontohan CRIC serta mitra CRIC dari Asia Selatan (AIILSG) dan Eropa (Pilot4Dev, Ecolise, ACR+ dan Gustave Eiffel University).&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hari pertama panel diskusi CRIC dimulai dengan presentasi perkembangan proyek CRIC saat ini oleh Nur Hamidah, Koordinator Proyek CRIC. Panel diskusi ini dihadiri oleh perwakilan dari 10 kota percontohan dan mitra-mitra dari Asia Selatan dan Eropa.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perwakilan dari Kota Percontohan CRIC: Bandar Lampung, Banjarmasin, Mataram dan Pangkalpinang menjadi perwakilan kota percontohan pertama yang memaparkan risiko dan kerentanan iklim lokal. Diskusi yang bermanfaat dimulai setelah presentasi dari masing-masing kota di mana para pemangku kepentingan di kota tersebut berbagi pengalaman dan aksi iklim mereka. Pejabat dari Ternate, salah satu kota percontohan CRIC, mengatakan bahwa kota ini memiliki indeks pembangunan manusia tertinggi di Maluku Utara. Namun, kota ini menghadapi kerentanan iklim yang tinggi akibat perubahan iklim.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Prof. Rizaldi Boer dari CCROMSEAP IPB dan tim menghadiri panel diskusi secara langsung, bertemu - untuk pertama kalinya - dengan semua pemangku kepentingan kota percontohan CRIC. Menanggapi presentasi kota, Prof. Rizaldi Boer mengatakan, bahwa inisiatif proyek CRIC untuk membangun kapasitas pemangku kepentingan kota percontohan memainkan peran penting dalam mengembangkan rencana aksi daerah perubahan iklim. Kota-kota di Indonesia menurut Prof. Boer perlu memahami sistem pelaporan mitigasi dan adaptasi iklim yang dikembangkan oleh pemerintah nasional dan memberikan informasi terkait iklim.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mitra CRIC, Isabelle Milbert turut serta dalam diskusi dengan menggarisbawahi pentingnya pertukaran pengetahuan antara kota-kota percontohan CRIC bisa berlanjut di masa depan. Perwakilan Kota Kupang turut merinci tren emisi gas rumah kaca kota dan berbagi tindakan mitigasi untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pelatihan CRIC dan pendampingan tim ahli CCROMSEAP IPB telah membantu kota percontohan mengidentifikasi sumber emisi gas rumah kaca dan menyusun aksi mitigasi. Seperti yang terjadi di Samarinda, kota percontohan CRIC lainnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perwakilan Kota Gorontalo menyatakan, sektor sampah menghasilkan emisi gas rumah kaca tertinggi di kota Gorontalo. Gorontalo berupaya mengurangi emisi gas rumah kaca melalui intervensi baru dan yang sudah ada. Sementara di Pekanbaru, sektor energi menghasilkan emisi gas rumah kaca tertinggi. Kota percontohan CRIC lainnya, Cirebon, mengidentifikasi 10 aksi potensial untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan menyoroti perlunya menyelaraskan aksi itu dengan data gas rumah kaca yang ada. \n\nLa Ode Abdul Wahid, Peneliti Senior dari CCROMSEAP IPB menyatakan, situasi di setiap kota adalah unik. Semakin besar kota, semakin banyak emisi gas rumah kaca yang dihasilkan oleh sektor energi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dr. Bernadia Tjandradewi menutup acara diskusi panel hari pertama dan berharap 10 kota percontohan dapat menjadi referensi bagi kota-kota lain - tidak hanya di Indonesia tetapi juga di Asia Pasifik - dalam mengembangkan aksi mitigasi dan adaptasi iklim.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Diskusi panel Proyek CRIC hari kedua dimulai dengan sambutan dari Dr. Bernadia Tjandradewi yang menyebutkan pentingnya inisiatif CRIC yang mendukung target Nationally Determined Contribution Pemerintah Indonesia. Sambutan hangat juga disampaikan oleh Novita Sari, EUD Programme Manager yang menyoroti dukungan dari Uni Eropa untuk menciptakan masyarakat yang tangguh dan inklusif di Indonesia. \n\nEmil Elestianto Dardak, Wakil Gubernur Provinsi Jawa Timur menyampaikan perlunya pengarusutamaan isu perubahan iklim dalam kehidupan sehari-hari untuk menciptakan kota yang tangguh dan inklusif.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Setelah semua sambutan selesai , panel diskusi CRIC pertama dimulai membahas topik \"Kota dan perubahan iklim\" didukung oleh presenter dari CCROMSEAP IPB, Pilot4Dev dan AIILSG. Prof. Isabelle Milbert dari Pilot4Dev mengajukan pertanyaan penting: \"Apakah kota-kota Eropa bisa menjadi model yang baik?\" Jawabannya adalah: \"Ya\" dan \"Tidak\". Pashim Tewari, Direktur Teknis AIILSG berbagi kerangka kerja India untuk menerapkan \"Leave no one behind\".&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sara Silva ECOLISE, Fasilitator Komunitas dan Mitra Proyek CRIC berbagi kompas transformasi kolaboratif. Dia mengatakan perlu \"KEBERANIAN\" dari para pemimpin untuk mengambil jalan terbaik ke depan bagi kota. Presentasi dilanjutkan oleh Dr. Pascaline Gaborit dari Pilot4Dev yang menyoroti krisis iklim dengan berbagi temuan IPCC. Dia berbagi cara untuk menciptakan ketahanan perkotaan terhadap perubahan iklim.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Prof. Rizaldi Boer menegaskan, kota-kota saat ini menjadi semakin rentan akibat perubahan iklim. Kota-kota menghasilkan 70% emisi gas rumah kaca global. Tantangannya adalah bagaimana memisahkan pembangunan, dengan tren terus meningkatnya emisi gas rumah kaca saat ini.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mitra CRIC Prof. Youssef Diab dari Universit\u00e9 Gustave Eiffel menutup panel diskusi secara online, mempresentasikan konsep rekayasa perkotaan menuju kota yang tangguh.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Panel diskusi berikutnya di hari kedua dimulai ketika Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota Semarang, Budi Prakosa berbagi pengalaman kota dalam menangani bencana iklim. Budi Prakosa menyebutkan bahwa penting untuk mengarusutamakan perubahan iklim ke dalam perencanaan pembangunan kota. Jika tidak, tindakan terkait iklim tidak akan bisa dilembagakan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Danko Aleksic, Mitra CRIC dari ACR+ berbicara tentang peran otoritas lokal dan regional dalam mempromosikan ekonomi sirkular. Danko memperkenalkan tidak hanya 3R tetapi juga 9R yaitu: mengurangi (reduce), menggunakan kembali (reuse), mendaur ulang (recycle), memulihkan\/recover (energi), memikirkan kembali mendesain ulang (rethink), memperbaiki (repair), memproduksi ulang (remanufacture) dan terakhir mendistribusikan kembali\/redistribute (9R). Danko percaya bahwa perubahan dapat terjadi di kota-kota di Indonesia setelah mengamati pengetahuan dan kapasitas pejabat kota dalam menangani masalah iklim selama kunjungan ke kota-kota percontohan KRIC.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Acara hari kedua CRIC diakhiri dengan presentasi dari Mitra CRIC tentang temuan dari kunjungan kota percontohan. \"Banyak intervensi di kota-kota percontohan CRIC yang memberi kita harapan (bahwa mereka akan bisa memecahkan masalah lingkungan),\" kata Pascaline Gaborit dari Pilot4Dev. Prof. Isabelle Milbert juga dari Pilot4Dev mengatakan bahwa CRIC Project terus menciptakan kemajuan setiap hari dan berharap inisiatif CRIC bisa berlanjut di masa depan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sara Silva dari ECOLISE dalam presentasinya menekankan bahwa tidak ada kelangkaan air di Kota Kupang jika kota ini bisa melengkapi dan memelihara jaringan distribusi air dan sistem pemanenan air permukaan lainnya. Sara dari ECOLISE mengusulkan solusi untuk banjir di Kota Gorontalo dengan meningkatkan daerah resapan air di kota: mengubah drainase yang disemen menjadi retensi air dan ruang terbuka hijau.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hari ketiga, hari terakhir Panel Diskusi CRIC dimulai. Narasumber dari Kota Surabaya dan Kota Jakarta siap berbagi pengalaman dalam aksi mitigasi dan adaptasi iklim. Wibi Nastiti dari APEKSI menjadi moderator diskusi ini.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Yayat Sudrajat, Kepala Divisi Transportasi DKI Jakarta merinci intervensi Jakarta yang berfokus pada pembangunan berorientasi transit untuk mengurangi emisi gas rumah kaca kepada para pemangku kepentingan CRIC. \n\nAgus Hebi Djuniantoro, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya, kota tuan rumah, menjelaskan pengelolaan sampah berbasis masyarakat kota yang dapat mengurangi 50 ton sampah setiap hari.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Setelah sesi pertama ini, Dr. Bernadia Tjandradewi, Sekretaris Jenderal UCLG ASPAC, mendengarkan dan memfasilitasi dialog antara kota-kota percontohan CRIC. Presentasi tentang bagaimana mengakses pembiayaan iklim dari Kementerian Keuangan dan PT. SMI menutup Panel Diskusi CRIC dan memberikan wawasan yang berguna bagi kota-kota yang membutuhkan pendanaan dan percepatan aksi iklim.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Melengkapi siklus pembelajaran atau \u201clearning circle\u201d, wakil dari kota-kota percontohan CRIC mengunjungi pusat daur ulang Jambangan di Surabaya untuk mengamati inisiatif pengelolaan sampah berbasis masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">CRIC Project tidak hanya mendukung kerja sama segitiga antara para pemangku kepentingan di Indonesia, Asia Selatan dan Eropa tapi juga mempromosikan dialog antara kota-kota percontohan dan kota-kota lain di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pejabat dari kota-kota percontohan CRIC juga belajar dari Kota Surabaya tentang bagaimana mengelola sampah organik di pusat daur ulang Jambangan. Terakhir, wakil dari kota-kota percontohan CRIC juga mengunjungi Gas Tempat Pembuangan Akhir\/LFG (Landfill Gas) di TPA Benowo di Surabaya yang mengubah sampah menjadi energi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>@CRICProject<\/strong><\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Proyek Climate Resilient and Inclusive Cities berhasil menyelenggarakan Panel Diskusi CRIC yang Pertama di Surabaya dari tanggal 1-3 Maret 2023. Acara ini dihadiri oleh para pemangku kepentingan dari kota percontohan CRIC serta mitra CRIC dari Asia Selatan (AIILSG) dan Eropa (Pilot4Dev, Ecolise, ACR+ dan Gustave Eiffel University).<\/p>","protected":false},"author":1,"featured_media":2410,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[26],"tags":[],"class_list":["post-2402","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/resilient-cities.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2402","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/resilient-cities.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/resilient-cities.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/resilient-cities.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/resilient-cities.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2402"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/resilient-cities.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2402\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/resilient-cities.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2410"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/resilient-cities.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2402"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/resilient-cities.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2402"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/resilient-cities.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2402"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}