Media Monitoring: Perubahan Iklim Menjadi Sorotan Media Menjelang COP26

Media Monitoring: Perubahan Iklim Menjadi Sorotan Media Menjelang COP26

Diterbitkan
Kategori
Penulis
Bagikan

Isu perubahan iklim mengisi wajah media-media di Indonesia menjelang perhelatan Konferensi PBB untuk Perubahan Iklim, COP26 (Konferensi Para Pihak), di Glasgow, Skotlandia, 31 Oktober hingga 12 November 2021.  

Kami mengkategorikan pemberitaan media yang ada ke dalam empat kategori: 

  • Kepemimpinan iklim. Terkait isu ini, pembritaan media berpusat pada kepemimpinan di seluruh tingkat pemerintahan untuk mengatasi perubahan iklim. Kompas melaporkan pentingnya untuk menerjemahkan kesepakatan tingkat tinggi di level internasional ke dalam kebijakan dan aksi tingkat lokal. Peran pemerintah daerah juga digarisbawahi melalui laporan media tentang langkah Gubernur DKI Jakarta untuk menerbitkan Peraturan Gubernur Nomor 90 Tahun 2021 tentang Rencana Pembangunan Rendah Karbon Daerah yang Berketahanan Iklim. 
  • Darurat iklim. Media-media Indonesia cenderung mengutip laporan dan publikasi internasional dalam melaporkan dampak perubahan iklim, seperti laporan Panel Antarpemerintah Tentang Perubahan Iklim terkait kelangkaan air, Organisasi Pangan dan Pertanian PBB terkait kerawanan pangan, McKinsey terkait potensi kerugian ekonomi dan lembaga nonprofit Climate Central terkait ancaman kenaikan muka air laut terhadap kota-kota pesisir di Indonesia. 
  • Pembiayaan iklim. Media juga menyoroti pembiayaan iklim mengingat kesenjangan pendanaan adalah salah satu isu krusial yang akan dibahas dalam COP26. Media memberitakan upaya ADB meningkatkan pembiayaan iklim untuk negara anggotanya dan langkah Indonesia untuk menerapkan pajak karbon.. 
  • Aksi iklim. Media mengusung urgensi inklusivitas dan kolaborasi dalam aksi iklim, terutama pelibatan kaum muda dalam proses pengambilan keputusan perubahan iklim.

Adanya Pemantauan media juga menunjukkan pentingnya untuk mengkaji dampak perubahan iklim terhadap ketersediaan air di Indonesia, sebagaimana dilaporkan Suara bahwa kajian seperti ini belum tersedia. Baca lebih lanjut dengan mengunduh dokumen di bawah ini. 

Posting Terkait

UCLG ASPAC, through the CRIC Project, engaged representatives from local governments, technical experts, and members of working groups from the 10 CRIC pilot cities to visit and learn from Banyumas’ community-driven and integrated waste management system, which serves as a model for decentralised climate action. Banyumas has made significant strides in solid waste management, in […]

The Climate Resilience and Innovation Forum (CRIF) 2025, in partnership with the Jakarta Special Capital Region and with support from the European Union brought together over 300 participants from across Asia and Europe to accelerate local climate action, the event marked the conclusion of the Climate Resilient and Inclusive Cities (CRIC) Project. Held in Jakarta, […]

Sustainable climate action in cities could be catalysed with the help of financing. Recognising this, the UCLG ASPAC-implemented Climate Resilient and Inclusive Cities (CRIC) Project held its fourth Panel of Experts was in Kochi, Kerala, India from 4-6th February 2025 at the Marriott Hotel.  Organised in collaboration with the All-India Institute of Local Self-Government (AIILSG) […]

Panel Ahli Tematik CRIC, dengan tema "Menuju Kota yang Inklusif dan Tangguh: Ekosistem dan Pengelolaan Sampah untuk Masa Depan yang Berkelanjutan," diselenggarakan di Nusa Dua, Bali, Indonesia pada tanggal 28-31 Oktober 2024.