Membina Masa Depan yang Berketahanan Iklim: Wawasan dari Panel Ahli CRIC di Bali tentang Pengelolaan Sampah dan Tata Kelola Bioregional

Membina Masa Depan yang Berketahanan Iklim: Wawasan dari Panel Ahli CRIC di Bali tentang Pengelolaan Sampah dan Tata Kelola Bioregional

Diterbitkan
Kategori
Penulis
Bagikan

Panel Ahli Tematik CRIC, dengan tema "Menuju Kota yang Inklusif dan Tangguh: Ekosistem dan Pengelolaan Sampah untuk Masa Depan yang Berkelanjutan," diselenggarakan di Nusa Dua, Bali, Indonesia pada tanggal 28-31 Oktober 2024.

Panel kedua ini terus berfungsi sebagai platform untuk dialog dan membangun kemitraan untuk memberdayakan kota-kota percontohan CRIC dan kota-kota di Asia Pasifik lainnya dalam mengimplementasikan Rencana Aksi Iklim (CAP) secara efektif. Dengan 80 peserta dari 15 kota/kabupaten, diskusi mengeksplorasi solusi berbasis alam, pengelolaan limbah, dan tata kelola bioregional, serta mendorong peluang kerja sama regional dan segitiga. Selama tiga hari berikutnya, para peserta dilatih mengenai perangkat pengelolaan sampah yang dikembangkan oleh mitra CRIC, ACR+, dan tata kelola bioregional oleh ECOLISE, untuk mendapatkan wawasan mengenai lanskap pengelolaan sampah di Indonesia, upaya pengurangan polusi plastik, dan bagaimana pemikiran sistem dapat diterapkan dalam pengembangan kebijakan iklim.

Bernadia Irawati Tjandradewi, Sekretaris Jenderal UCLG ASPAC, yang menyoroti pentingnya pengelolaan limbah dalam mengurangi kenaikan suhu global dan menggarisbawahi perlunya tindakan bersama. Menurutnya, "Solusi dan teknologinya sudah ada. Satu-satunya bagian yang hilang adalah komitmen kolektif kita. Keterlibatan publik juga masih menjadi tantangan yang terus berlanjut. Jadi, kita harus mengambil langkah nyata, mulai hari ini, sekecil apa pun, untuk membuat perbedaan." Bernadia juga menyatakan dukungan berkelanjutan UCLG ASPAC kepada pemerintah daerah dalam memerangi perubahan iklim, dengan mencatat bahwa banyak kota percontohan CRIC yang hampir menyelesaikan CAP mereka.

Thibaut Portevin, Kepala Kerjasama Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia, menekankan kemitraan Uni Eropa dengan proyek CRIC dalam mempromosikan kota-kota yang berketahanan iklim dan inklusif. Beliau menyoroti peran penting pemerintah daerah dalam mengatasi tantangan perubahan iklim dan perlunya inisiatif ekonomi sirkular. Memperhatikan bahwa ekonomi sirkular lebih dari sekadar pengelolaan dan daur ulang limbah, ia menjelaskan bahwa ekonomi sirkular berfokus pada penciptaan nilai yang lebih tinggi dari sumber daya. "CRIC, Uni Eropa, dan Indonesia bekerja sama untuk membantu kota-kota menciptakan masa depan yang tangguh dan inklusif," tutupnya, menggarisbawahi komitmen bersama untuk pembangunan perkotaan yang berkelanjutan.

Acara pembukaan diakhiri dengan sambutan dari Bapak Priyanto Rahmatullah, Direktur Lingkungan Hidup Bappenas, yang menyoroti perlunya pengelolaan sampah yang terintegrasi, sehingga dapat berkontribusi pada strategi pembangunan jangka panjang Indonesia. Beliau menekankan pentingnya kolaborasi di semua sektor untuk mencapai kehidupan perkotaan yang berkelanjutan dan mencapai target nol emisi di tahun 2060.

Setelah upacara pembukaan, panel menggali sesi tematik yang mendalam yang mencakup tema-tema utama seperti solusi berbasis alam dan tata kelola bioregional, termasuk sesi pembelajaran dari kota-kota percontohan tentang kemajuan CAP mereka, yang disesuaikan dengan tantangan dan peluang unik masing-masing kota, serta dari kota-kota tamu yang memungkinkan para peserta untuk mendapatkan wawasan yang berharga mengenai praktik pengelolaan limbah, air, dan sanitasi yang efektif

Untuk Sesi 1, Bapak Hizbullah Arief, Manajer Proyek CRIC, memoderatori sesi ahli mengenai model-model tata kelola bioregional, dengan pembicara Sara Silva, Erika Zarate, Oscar Gussinyer, dan Sarah Queblatin dari ECOLISE. Sesi ini menyoroti studi kasus dari Eropa, Asia Selatan, dan Asia Tenggara, yang menekankan pada strategi untuk mengelola tantangan lingkungan dan sosial melalui kepemimpinan regeneratif.

Sesi 2 dimoderatori oleh M. Rizki Satria, Field Officer untuk wilayah Sulawesi dan Nusa Tenggara Barat, dan menampilkan presentasi dari perwakilan Kelompok Kerja Iklim CRIC dari kota-kota percontohan seperti Kupang (Ibu Nofdi L. Pono), Gorontalo (Ibu Meidy Novieta Silangen), dan Pekanbaru (Bapak Ingot Ahmad Hutasuhut), yang membahas tantangan-tantangan lokal dalam pengelolaan sampah dan air.

Di Kupang, solusi inovatif untuk mengatasi kelangkaan air termasuk revitalisasi sumur-sumur masyarakat yang menggunakan air hujan, di samping CAP komprehensif yang mencakup berbagai inisiatif sanitasi yang bertujuan untuk membangun ketahanan dan keberlanjutan. Pekanbaru memamerkan larangan penggunaan plastik, bank sampah, konversi belatung, serta memastikan kesinambungan upaya aksi iklim melalui perencanaan yang kuat, bahkan saat terjadi pergantian kepemimpinan.

Sementara itu, di Gorontalo, studi adaptasi iklim menunjukkan adanya kerentanan yang signifikan terhadap banjir dan tanah longsor di beberapa kelurahan, yang menjadi dasar penyusunan CAP kota tersebut. Secara keseluruhan, Kota Gorontalo menekankan pada pengelolaan sampah, revitalisasi permukiman kumuh dan pengembangan kebijakan yang berkelanjutan, untuk memastikan bahwa kota ini lebih siap dalam menghadapi tantangan terkait iklim. Presentasi ini menunjukkan pendekatan kolaboratif terhadap ketahanan iklim, dengan masing-masing kota menyesuaikan strateginya untuk memenuhi kebutuhan lokal.

Sesi 3, yang dimoderatori oleh Bapak Rendy Primrizqi, memperkenalkan alat yang dikembangkan ECOLISE untuk mengatasi masalah air dan sanitasi di Kupang dan Gorontalo, yang dibawakan oleh Sara Silva (ECOLISE), Arif Wibowo dan Ikrom Mustofa (ICLEI Indonesia), dan Sabrina Farah (ReservoAir). Para pembicara menyoroti strategi untuk mengelola bentang alam karst, meningkatkan daerah tangkapan air, memprioritaskan praktik Open Defecation Free (ODF), dan mengembangkan solusi berbasis alam seperti lahan basah yang dibangun. Secara keseluruhan, perangkat ini bertujuan untuk meningkatkan ketahanan perkotaan dengan mengatasi tantangan sistemik.

Sesi 4 dipimpin oleh mitra CRIC, Dr. Pascaline Gaborit sebagai Pendiri Pilot4Dev dan dimoderatori oleh Ibu Dian Noviyanti, Climate Officer UCLG ASPAC, yang menekankan pada solusi berbasis alam untuk meningkatkan risiko bencana dan ketahanan iklim di Banjarmasin dan Samarinda. Perangkat CRIC yang telah disesuaikan seperti Plan Your Safety mengintegrasikan kebutuhan lokal untuk memitigasi banjir, kerusakan tanah, dan masalah perumahan, oleh karena itu, sesi ini juga menggarisbawahi potensi ekonomi dari sektor-sektor baru yang didorong oleh kebutuhan yang terus berkembang dan data dari aksi-aksi iklim.

Pada sesi 5, kota-kota percontohan CRIC mendapatkan wawasan yang berharga dari kota-kota di Indonesia seperti Padang, Denpasar, Banyumas, dan Banyuwangi tentang pengelolaan sampah yang inovatif dan strategi Pusat Pemulihan Sumber Daya Terpadu (Integrated Resource Recovery Centre/IRRC). Ibu Indah Wibi Nastiti, General Manager APEKSI menjadi moderator dalam sesi yang bermanfaat ini, di mana pendekatan komprehensif diimplementasikan oleh Banyuwangi, yang menggabungkan peraturan, infrastruktur, dan inisiatif seperti Inisiatif Kali Bersih dan fasilitas 3R yang dipimpin oleh sektor swasta. Sementara itu, Banyumas telah mengalihkan tempat pembuangan sampah tradisional di kota ke pengolahan sampah berbasis masyarakat dan aplikasi seperti Jeknyong, dan Denpasar meningkatkan regulasinya melalui Peraturan Daerah No. 8 tahun 2023 tentang pemilahan sampah dan memberikan insentif untuk partisipasi melalui aplikasi SIDARLING. Untuk Padang, pengumpulan sampah berbasis sumber menjadi prioritas, dan fasilitas pengolahan diperluas melalui kolaborasi internasional. Sebagai hasilnya, contoh-contoh ini menyoroti peran kemitraan, peraturan, dan keterlibatan masyarakat dalam solusi sampah yang berkelanjutan.

Kegiatan penanaman pohon di Lapangan Wayan Bulit di Desa Serangan menandai berakhirnya hari pertama yang sukses. Inisiatif ini, yang merupakan bagian dari Inisiatif Penghijauan UCLG ASPAC, dilaksanakan melalui kemitraan dengan Kota Denpasar dan APEKSI, yang merupakan langkah penting untuk mengurangi jejak karbon dan menggarisbawahi pentingnya ruang terbuka hijau serta keterlibatan masyarakat untuk meningkatkan kelestarian lingkungan di wilayah tersebut.

Selama hari kedua hingga keempat, para peserta mengambil bagian dalam serangkaian sesi interaktif dan reflektif yang bertujuan untuk memperdalam pemahaman mereka tentang tata kelola bioregional dan perannya dalam mengatasi tantangan iklim. Sesi ini juga menghadirkan Ravi Ranjan Guru, Wakil Direktur Jenderal AIILSG, mitra CRIC yang memamerkan kontribusi AIILSG dalam meningkatkan pengelolaan sampah perkotaan dan tata kelola bioregional. Hal ini termasuk model pemilahan sampah serta inisiatif pengomposan dan daur ulang, untuk membantu kota-kota mengadopsi praktik pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan. Secara keseluruhan, fokus dari tiga hari berikutnya, berkembang dari pengalaman individu menjadi tanggung jawab bersama terhadap alam, dengan latihan seperti pencerminan dan refleksi yang membantu para peserta mengungkap wawasan pribadi dan memperkuat hubungan mereka dengan lingkungan.

Salah satu sorotan utama adalah kunjungan ke Subak Pedahanan di Bali, di mana para peserta mengamati praktik pengelolaan air tradisional yang menekankan tata kelola dan keberlanjutan masyarakat, menggarisbawahi pentingnya melestarikan ekosistem lokal. Hari ketiga dilanjutkan dengan eksplorasi tempat, kekuatan, dan manusia dalam upaya ketahanan iklim, diikuti dengan pelatihan pemikiran sistem yang memungkinkan para peserta untuk mengidentifikasi akar masalah dan titik pengungkit untuk perubahan sistemik. Hari terakhir berpusat pada masa depan regeneratif, di mana para peserta menerapkan alat berpikir sistem, seperti model gunung es, untuk membuat rencana aksi bagi kota-kota percontohan. Rencana-rencana ini berfokus pada strategi praktis untuk pengelolaan air, pengurangan limbah, dan mengintegrasikan praktik-praktik perencanaan kota yang berkelanjutan, dengan tujuan untuk mendorong ketahanan iklim di komunitas lokal.

Posting Terkait

UCLG ASPAC, through the CRIC Project, engaged representatives from local governments, technical experts, and members of working groups from the 10 CRIC pilot cities to visit and learn from Banyumas’ community-driven and integrated waste management system, which serves as a model for decentralised climate action. Banyumas has made significant strides in solid waste management, in […]

The Climate Resilience and Innovation Forum (CRIF) 2025, in partnership with the Jakarta Special Capital Region and with support from the European Union brought together over 300 participants from across Asia and Europe to accelerate local climate action, the event marked the conclusion of the Climate Resilient and Inclusive Cities (CRIC) Project. Held in Jakarta, […]

Sustainable climate action in cities could be catalysed with the help of financing. Recognising this, the UCLG ASPAC-implemented Climate Resilient and Inclusive Cities (CRIC) Project held its fourth Panel of Experts was in Kochi, Kerala, India from 4-6th February 2025 at the Marriott Hotel.  Organised in collaboration with the All-India Institute of Local Self-Government (AIILSG) […]

Pascaline Gaborit, mitra CRIC dan Pendiri Pilot4Dev mengunjungi kota percontohan Banjarmasin, Kalimantan Selatan, untuk berinteraksi dengan perwakilan pemerintah daerah terkait isu-isu mendesak seperti air, sanitasi, dan pengelolaan sampah.