Pengarusutamaan Ketahanan Iklim Menjadi Prioritas Kota CRIC

Pengarusutamaan Ketahanan Iklim Menjadi Prioritas Kota CRIC

Diterbitkan
Kategori
Penulis
Bagikan


Kota telah mengidentifikasi aksi-aksi yang bisa meningkatkan ketahanan iklim. Pengarusutamaan aksi-aksi yang menunjang terciptanya ketahanan iklim akan menjadi prioritas kota di masa datang. Pernyataan ini diutarakan oleh Basuni, perwakilan kelompok kerja perubahan iklim Samarinda dari Dinas Lingkungan Hidup dalam forum dialog daring antara Kota-Kota Pelopor CRIC dan mitra, pada Kamis, 7 Juli 2022. 

Menurut Basuni, organisasi pemerintah daerah telah banyak melakukan aksi yang bisa digolongkan sebagai aksi iklim, baik dalam mitigasi maupun adaptasi untuk meningkatkan ketahanan iklim Kota Samarinda. Di sektor pertanian misalnya, Kota Samarinda mendorong masyarakat untuk mempraktikkan pertanian keluarga dimana masyarakat menanam buah-buahan, sayuran atau tanaman lain untuk mengintensifkan halaman depan atau halaman belakang rumah mereka sebagai sumber makanan dan pendapatan. Kota juga telah mendorong petani dan masyarakat untuk menggunakan pupuk organik untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap pupuk kimia.

Kota telah mengimplementasikan strategi pengendalian dan pengelolaan banjir melalui buka tutup kanal air di Sungai Mahakam dan menginisiasi program Kampung Iklim, program nasional untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan adaptasi perubahan iklim di wilayah-wilayah kelurahan.

Banjir menjadi masalah utama di Banjarmasin – yang juga merupakan Kota Pelopor CRIC. Kota Banjarmasin juga mengalami cuaca ekstrem yang disebabkan oleh perubahan iklim. Ain Roselly Syahsalina, anggota kelompok kerja perubahan iklim Kota Banjarmasin dari Bappeda menyebutkan terdapat tujuh kelurahan di Banjarmasin yang rentan terhadap bencana banjir.

Dari analisis iklim awal yang dibuat oleh kota melalui bantuan pelatihan dari CRIC, Kota Banjarmasin diperkirakan akan mengalami peningkatan intensitas hujan di masa datang dalam periode 2021-2050. Saat Kota Banjarmasin mengalami curah hujan ekstrim selama tujuh hari berturut-turut antara 14-20 Januari 2021, lebih dari 100.000 orang harus mengungsi akibat banjir. Jaringan drainase kota tidak bisa menahan banjir hasil dari tingginya intensitas air hujan ekstrem tersebut. Untuk mengurangi risiko bencana banjir di masa datang, kota juga terlibat dalam proyek National Urban Flood Resilience yang didanai oleh Bank Dunia di bawah koordiasi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. 

Menanggapi pernyataan Basuni dari Samarinda, Roselly dari Kota Banjarmasin juga menyampaikan telah mengidentifikasi banyak program guna meningkatkan ketahanan kota terhadap perubahan iklim. Kota menerapkan straegi dengan menandai (tagging) kegiatan-kegiatan adaptasi dan mitigasi perubahan serta mengintegrasikan rencana aksi iklim dalam rencana pembangunan kota.

Aksi-aksi iklim Kota Banjarmasin mencakup memperbaiki pengelolaan limbah dan sanitasi, normalisasi sungai dan restorasi lingkungan. Kota juga telah menginisiasi kompetisi kebersihan di 75 sungai sejak tahun 2017 dan terlibat dalam program kampung iklim berkoordinasi dengan pemerintah pusat.

Pascaline Gaborit, Pendiri Pilot4Dev, salah satu Mitra Internasional CRIC menyatakan, harus ada perencaan terintegrasi untuk mengurangi risiko banjir. Kota-kota juga harus memperbaharui data iklim mereka secara terus menerus karena mereka terus menghadapi risiko banjir yang semakin parah di masa datang. Danko Aleksic dari ACR+, salah satu Mitra Internasional CRIC berharap untuk bisa mengunjungi Samarinda dan Banjarmasin di masa datang. Mitra internasional CRIC bisa mengembangkan metode (tools) untuk Kota Banjarmasin dan Samarinda guna membantu memecahkan massalah pengelolaan limbah, sanitasi dan air di perkotaan.

–##–

Kontributor: Aniessa Delima Sari (UCLG ASPAC Regional Project Manager), Abimanyu Arya (CRIC Internship), Aditya Pratama Nugraha Akbar (CRIC Project Internship).

Posting Terkait

UCLG ASPAC, through the CRIC Project, engaged representatives from local governments, technical experts, and members of working groups from the 10 CRIC pilot cities to visit and learn from Banyumas’ community-driven and integrated waste management system, which serves as a model for decentralised climate action. Banyumas has made significant strides in solid waste management, in […]

The Climate Resilience and Innovation Forum (CRIF) 2025, in partnership with the Jakarta Special Capital Region and with support from the European Union brought together over 300 participants from across Asia and Europe to accelerate local climate action, the event marked the conclusion of the Climate Resilient and Inclusive Cities (CRIC) Project. Held in Jakarta, […]

Sustainable climate action in cities could be catalysed with the help of financing. Recognising this, the UCLG ASPAC-implemented Climate Resilient and Inclusive Cities (CRIC) Project held its fourth Panel of Experts was in Kochi, Kerala, India from 4-6th February 2025 at the Marriott Hotel.  Organised in collaboration with the All-India Institute of Local Self-Government (AIILSG) […]

Panel Ahli Tematik CRIC, dengan tema "Menuju Kota yang Inklusif dan Tangguh: Ekosistem dan Pengelolaan Sampah untuk Masa Depan yang Berkelanjutan," diselenggarakan di Nusa Dua, Bali, Indonesia pada tanggal 28-31 Oktober 2024.