Kota Banjarmasin mendapatkan pelatihan mitigasi iklim (M2) dari Climate Resilient and Inclusive Cities (CRIC), 2 Februari 2023. Pelatihan ini difasilitasi oleh tim Centre for Climate Risk and Opportunity Management in Southeast Asia Pacific (CCROM - SEAP).
CCROM, sebagai salah satu mitra pelatihan CRIC, adalah pusat penelitian di IPB University Bogor.
Dr. Bernadia Tjandradewi, Sekretaris Jenderal UCLG ASPAC, membuka pelatihan “hybrid” yang diikuti oleh seluruh anggota Pokja Iklim Kota Banjarmasin ini. Dr. Bernadia dalam pembukaannya menyebutkan, pelatihan ini akan membantu kota mengurangi emisi gas rumah kaca sebagai bagian dari skenario mitigasi nasional yang dirinci dalam NDC (Nationally Determined Contribution) Indonesia. "Hasil pelatihan ini akan memberikan landasan bagi pembuatan kebijakan dan program kota untuk mengurangi emisi gas rumah kaca," katanya.
Pelatihan mitigasi iklim CRIC pertama (M1) telah membantu kota Banjarmasin menganalisis inventarisasi gas rumah kaca dan melakukan pelaporan iklim melalui “Sign Smart”, platform pelaporan mitigasi perubahan iklim yang dikembangkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Banjarmasin telah mampu mengidentifikasi emisi gas rumah kaca dari sektor energi, limbah, pertanian, hutan dan penggunaan lahan.
Kemajuan Kota Banjarmasin dalam aksi iklim juga ditunjukkan dari kemampuan kota untuk mengidentifikasi kerentanan kota dari perubahan iklim. Kota juga telah menghasilkan peta kerentanan iklim dan menganalisis potensi dampak krisis iklim. Keterampilan tersebut diperoleh dari pelatihan adaptasi iklim KRIC. Banjarmasin telah menyelesaikan dua Pelatihan Adaptasi Perubahan Iklim CRIC yang membahas dasar ilmiah perubahan iklim, perhitungan kerentanan dan risiko (A1) serta kerentanan iklim, risiko dan rencana adaptasi iklim (A2).
Dr. Bernadia menyebutkan, dalam waktu dekat, CRIC menjadi tuan rumah panel pertemuan para ahli di Surabaya dan mengharapkan Walikota CRIC Pilot Cities turut menghadiri acara ini. Pertemuan Panel Ahli CRIC akan menjadi panggung bagi semua pakar CRIC dan pejabat kota untuk secara teknis membahas semua hal terkait perencanaan aksi iklim di perkotaan, baik dalam aksi mitigasi maupun adaptasi iklim. Dr. Bernadia juga menyampaikan apresiasinya terhadap Kota Banjarmasin yang terus berupaya meningkatkan kotanya menjadi kota layak huni dan berkelanjutan.
Dwi Naniek Muhariyani selaku Kepala Seksi Lingkungan Hidup Kota Banjarmasin menyatakan, Banjarmasin telah mendorong masyarakat lokal untuk terlibat aktif dalam aksi iklim. Sebagai contoh, Banjarmasin saat ini memiliki 51 desa yang terlibat dalam Program Kampung Iklim (Proklim).
CRIC training yang berlangsung selama dua hari ini diikuti oleh total 26 peserta yang terdiri dari 12 laki-laki dan 14 perempuan. Para peserta ini berasal dari berbagai instansi pemerintah daerah dan perusahaan nasional yaitu: Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), Dinas Lingkungan Hidup Kota, Dinas Pertanian, Dinas Perumahan, BPS, PLN, PDPAL, PDAM, dan Pertamina.
@cricproject