* Ditulis oleh: Cemara Dinda
Anggota tim proyek untuk Kota Berketahanan Iklim dan Inklusif (Climate Resilient and Inclusive Cities/CRC) yang didanai oleh Uni Eropa (UE) duduk bersama untuk menyegarkan kembali proyek ini guna memastikan pelaksanaan terbaik di tahun terakhirnya dalam membantu kota-kota mencapai komitmen iklim mereka. Pertemuan tersebut dilaksanakan di Jakarta pada tanggal 16-17 Mei 2023.
Dalam diskusi tersebut, tim proyek CRIC yang terdiri dari anggota tim proyek yang berada di kantor Jakarta dan Field Officer (FO) dari Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Indonesia Timur berdiskusi untuk memastikan bahwa seluruh anggota tim berada dalam jalur yang sama dan mempersiapkan pelaksanaan proyek.Hal ini mencakup, antara lain, beberapa aspek pelatihan dan pengembangan perangkat terkait pengukuran kerentanan, penandaan, hingga kebutuhan studi dasar dalam menganalisis bagaimana berbagai sektor (terutama transportasi) di sebuah kota dapat berkontribusi terhadap pengurangan emisi gas rumah kaca.
Tim juga mendalami rencana kerja proyek dan kerangka kerja logis, dengan fokus pada apa yang perlu dicapai dan ditingkatkan di tahun terakhirnya. Hal ini juga mencakup bagaimana tim proyek CRIC dan para mitra dapat berkolaborasi dengan baik. Setelah melalui diskusi yang konstruktif antara anggota tim proyek dan FO, prioritas-prioritas berikut telah ditentukan:
- Disepakati bahwa semua mitigasi dan adaptasi iklim harus diselesaikan untuk semua kota percontohan, termasuk laporan Rencana Aksi Iklim;
- Berkoordinasi secara efektif dengan para mitra (CCROM dan pemangku kepentingan kota);
- Untuk membantu kebutuhan mitra dan pemangku kepentingan kota;
- Revisi kerangka kerja logis;
- Pengembangan alat dan pelatihan (termasuk materi dan implementasinya) diselesaikan dan disampaikan oleh para mitra;
- Untuk meningkatkan pengetahuan dan produk pembelajaran seperti publikasi online dan cetak, situs web, saluran Youtube, dll.
Diskusi juga menyoroti komponen-komponen yang sangat penting untuk akselerasi, termasuk pengembangan perangkat untuk manajemen risiko bencana, polusi udara, pengelolaan limbah, penggunaan sumber daya yang berkelanjutan (termasuk air dan sanitasi), serta perangkat untuk skema waste to energy. Selain itu, ada pula pengembangan materi pelatihan mengenai aspek-aspek pembangunan kota berkelanjutan seperti tata kelola pemerintahan yang baik, inklusivitas, teknologi pintar, peringatan dini untuk manajemen risiko bencana, transisi iklim dan energi, hingga ekonomi sirkular.

Bagi para anggota tim, pertemuan ini juga berfungsi sebagai pengingat akan pentingnya berbagi kegiatan di antara para akademisi, komunitas lokal, walikota, praktisi perkotaan, dan media. Beberapa perbaikan yang diharapkan juga dibahas, termasuk revitalisasi situs web proyek, pembuatan kampanye bersama dan tematik, dan pembuatan strategi untuk produksi konten yang dikoordinasikan dengan semua anggota tim dan sejalan dengan pesan-pesan utama proyek.
Setelah pertemuan ini, tim Proyek CRIC juga akan berkoordinasi dengan para mitra untuk melakukan konsolidasi lebih lanjut.