Kegiatan Proyek CRIC berlanjut sepanjang bulan Juni, dengan diskusi partisipatif terkait penandaan program aksi untuk sektor mitigasi.
Sekitar 29 orang hadir dalam kegiatan ini, terdiri dari tujuh belas laki-laki dan dua belas perempuan. Beberapa pemangku kepentingan yang turut serta meliputi perwakilan dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) Kota Samarinda, akademisi dari UNMUL, organisasi komunitas GMSS (Pengumpul Sampah Sungai), serta pemuda dari komunitas World Clean-up Day, selain anggota Kelompok Kerja Iklim (Pokja) Samarinda.
Partisipasi para pemangku kepentingan dalam proyek CRIC di Kota Samarinda akan sangat berharga ke depannya karena mereka dapat memberikan masukan dan saran yang relevan dengan konteks program mereka. Di sisi lain, mereka juga dapat mendengar secara langsung tentang program aksi yang telah dikembangkan bersama oleh pemerintah Kota Samarinda dan pemangku kepentingan lainnya. Anggota Pokja Samarinda yang hadir terdiri dari beberapa OPD atau kantor pemerintahan daerah dari berbagai sektor, yaitu Dinas Lingkungan Hidup, BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah), Dinas Permukiman dan Perumahan, Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata, Dinas Kesehatan, BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika), Dinas Sumber Daya Alam, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, serta lainnya.
Diskusi ini juga dibuka oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Samarinda, Bapak Ir. Endang Liansyah, MP. Untuk mengurangi emisi dan dampak perubahan iklim di Kota Samarinda, beliau menyatakan bahwa kelompok kerja harus “secara aktif berpartisipasi dalam seluruh rangkaian kegiatan CRIC”.
Rangkaian diskusi dimulai dengan penyebaran informasi mengenai daftar tagging yang telah diselesaikan serta pemberian waktu bagi kelompok kerja untuk meninjau dan mengevaluasi program-program yang telah diselesaikan. Sementara itu, perwakilan PLN mengajukan permintaan agar program mereka – yaitu manajemen kualitas emisi pembangkit listrik dan ESG Corporate untuk Transisi Energi – dimasukkan dalam daftar. Kelompok kerja Kota Samarinda menyetujui usulan ini karena meskipun pembangkit listrik di Kota Samarinda saat ini dalam kondisi siaga, PLN tetap diharapkan dapat berkontribusi dalam upaya pengurangan emisi di kota ini.
Dalam hal sektor, kelompok kerja Kota Samarinda selama diskusi mencakup beberapa sektor, yaitu limbah, energi, dan AFOLU (Pertanian, Kehutanan, dan Penggunaan Lahan Lainnya). Alat klasik namun strategis untuk diskusi interaktif diberikan kepada setiap kelompok, terdiri dari perangkat lunak penandaan kartu, sticky notes, flipchart, dan alat lainnya. Kemudian, kelompok kerja melanjutkan dengan mengkategorikan program-program terkait aksi iklim mereka. Kelompok kerja memilih beberapa program dan kemudian diberikan pertanyaan mengenai kriteria pemilihan, jumlah program yang harus diprioritaskan, pelaksanaan program serta tantangannya, jadwal implementasi, kontribusi terhadap emisi GRK, serta bagaimana program dan outputnya berkaitan dengan temuan dari analisis kategori kunci berbasis tanda pintar.
Setelah itu, kelompok kerja semakin mempertajam dan memfokuskan beberapa program yang berada dalam sektor yang sama akibat dari diskusi tersebut. Misalnya, "Penyediaan, perbaikan, dan pemeliharaan fasilitas dan infrastruktur pengelolaan sampah" menjadi judul utama dari beberapa program penandaan terkait, termasuk pembangunan dan operasional TPS 3R (Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle), penyediaan fasilitas pengelolaan sampah, pembangunan dan operasional rumah kompos, dan sebagainya. Program kedua berkaitan dengan "pemanfaatan dan pengembangan teknologi pengelolaan sampah," yang mencakup pembuatan bahan bakar dari limbah padat, pemulihan gas dari tempat pembuangan akhir (TPA), serta pengembangan teknologi pengolahan sampah. Kelompok kerja menemukan bahwa kedua faktor ini memiliki dampak langsung terhadap analisis kategori kunci Samarinda, yang mengidentifikasi sektor sampah sebagai penyumbang utama emisi dengan total kontribusi sebesar 39,80%.
Selain itu, pemanfaatan pupuk organik (UPPO) menjadi salah satu sektor utama yang muncul dalam diskusi, dengan sub-program seperti kompos, pupuk organik, biogas, pakan ternak hijauan, serta pemanfaatan bagi masyarakat di pekarangan. Berdasarkan analisis kategori utama di sektor pertanian, program ini juga berkontribusi dalam upaya pengurangan emisi, terutama karena sektor pertanian menempati posisi tiga teratas dalam emisi N₂O tidak langsung pada bagian pengelolaan kotoran ternak.
Menjelang akhir diskusi, para peserta beralih membahas kondisi upaya mitigasi serta kebutuhan informasi sebelum pelatihan adaptasi. Beberapa organisasi bahkan telah berkomitmen untuk membantu pencarian data, termasuk BPBD yang akan mencari informasi mengenai lokasi rumah-rumah di daerah rawan bencana atau wilayah yang menjadi pusat distribusi air utama.