Kompetisi "Maharagu Sungai" di Kota Banjarmasin: Inisiatif Mitigasi Iklim yang Berpusat pada Masyarakat dan Multi Pemangku Kepentingan

Kompetisi "Maharagu Sungai" di Kota Banjarmasin: Inisiatif Mitigasi Iklim yang Berpusat pada Masyarakat dan Multi Pemangku Kepentingan

Diterbitkan
Kategori
Penulis
Bagikan

Dikenal sebagai "Kota Seribu Sungai", Banjarmasin merupakan salah satu kota di Indonesia yang dilalui oleh beberapa sungai. Dahulu kala, masyarakatnya menggunakan perahu besar seperti kelotok dan jukung sebagai moda transportasi utama dan berdagang di sepanjang sungai.Dengan adanya perdagangan di sepanjang sungai, atau yang lebih dikenal dengan pasar terapung, sungai menjadi sumber air yang digunakan untuk kehidupan dan mata pencaharian sehari-hari.

Sejak dulu, sungai secara tradisional telah dimanfaatkan oleh masyarakat Kota Banjarmasin untuk kegiatan sehari-hari, seperti transportasi, mencuci, mencari ikan, bahkan mandi. Namun, kini fungsi sungai mulai bergeser. Kegiatan-kegiatan tersebut masih ada namun sudah sangat jarang dilakukan karena kualitas air sungai yang sudah sangat menurun. Sementara itu, kondisi sungai yang semakin sempit membuat transportasi menjadi semakin sulit. Selain itu, masih ada saja masyarakat yang membuang sampah dan limbah ke sungai sehingga menyebabkan penumpukan sampah di sungai.

Untuk mengembalikan sungai seperti semula, atau setidaknya kebersihannya, Dinas Lingkungan Hidup Kota Banjarmasin mengadakan lomba "Maharagu Sungai". Lomba ini diadakan di setiap kecamatan. Hasilnya, sungai-sungai mulai bersih. Dalam jangka panjang, sungai-sungai di Kota Banjarmasin akan menjadi lebih bersih lagi seiring dengan berjalannya kompetisi ini. 

Sungai yang bersih dan nyaman juga dapat menciptakan lingkungan yang sehat bagi masyarakat Banjarmasin. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan partisipasi masyarakat dalam program yang dicanangkan oleh pemerintah, sehingga Pemerintah Kota Banjarmasin telah melakukan berbagai upaya khususnya melalui program Maharagu Sungai yang merupakan salah satu strategi kampanye komunikasi lingkungan yang dilakukan oleh Dinas Lingkungan Hidup Kota Banjarmasin untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam program revitalisasi sungai.

Dinas Lingkungan Hidup Kota Banjarmasin memprakarsai kampanye partisipatif lingkungan "Maharagu Sungai" setelah menyadari bahwa sungai merupakan aset penting bagi keberlanjutan kota Banjarmasin baik dari segi investasi, destinasi wisata, maupun kesehatan lingkungan. Program ini dibuat sebagai upaya mutakhir dalam kegiatan komunikasi lingkungan yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Banjarmasin untuk mendorong partisipasi masyarakat di sepanjang bantaran sungai. 

Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLH) Kota Banjarmasin juga menyadari bahwa akan sangat sulit untuk mewujudkan visi dan misi Banjarmasin BAIMAN"barasih wan nyaman" atau bersih dan nyaman dalam bahasa Indonesia, jika hanya pihak pemerintah saja yang bergerak tanpa adanya dukungan dan kontribusi dari masyarakat sekitar. 

Jika dilihat dari arti kata 'Maharagu' dalam Maharagu Sungai dalam bahasa Indonesia berarti 'memelihara' atau 'menjaga'. Kompetisi ini bertujuan untuk menghidupkan kembali kehidupan beberapa sungai di Kota Banjarmasin yang terlihat mati karena dangkal dan tidak dapat dilalui akibat tumpukan sampah dan limbah rumah tangga yang menumpuk di dasar sungai. 


Maharagu Sungai terdiri dari tiga tahap kegiatan: pertama, ketika seorang pemimpin sungai dipilih, sebuah kelompok dibentuk dengan mengajak mereka yang peduli dan memiliki kepedulian yang sama terhadap sungai. Kedua, masyarakat dimobilisasi untuk melakukan aksi bersih-bersih bersama para pemangku kepentingan sungai dan organisasi mereka. Rasa urgensi akan muncul ketika teman-teman mereka membersihkan sungai, tetapi mereka mencemari sungai sekali lagi, dilema moral akan terjadi. Pada tahap ini, nilai kompetisi akan meningkat dengan partisipasi lebih lanjut dari lebih banyak orang. Yang ketiga adalah kreativitas, karena mereka dipersilakan untuk menerapkan ide-ide baru dalam mengembangkan sungai yang bersih. Misalnya, mereka bisa membuat tempat wisata.

Bapak Wahyu Hardi Cahyono selaku sekretaris DLH mengatakan "Dampak jangka pendek untuk Maharagu Sungai ini, sebelum tahun 2020 kita tahu ada 102 sungai tetapi ketika direvisi lagi pada tahun 2020, walikota mengeluarkan surat keputusan bahwa jumlah sungai menjadi 290 sungai. Lomba Maharagu Sungai sendiri sudah ada sejak tahun 2017, ini merupakan bentuk pembinaan atau sosialisasi secara tidak langsung dari dinas lingkungan hidup sebagai pengganti pembinaan secara langsung. Dari sini kami berharap nantinya, setiap tahun ada 15 sungai yang dipertahankan dalam lomba ini. Inisiatif ini sebenarnya datang dari DLH karena kami percaya bahwa kami tidak bisa menyelesaikan masalah di sungai ini tanpa melibatkan masyarakat. Selain melibatkan pemerintah, kini kami juga melibatkan pihak swasta dalam pemeliharaan sungai ini."

Bapak Wahyu juga menambahkan bahwa tujuan jangka panjang tentu saja merupakan hal yang dapat dicapai selain mendukung program prioritas walikota dalam hal revitalisasi dan pengelolaan sungai. "Kami berharap dalam jangka panjang dengan adanya lomba Maharagu Sungai ini, masyarakat semakin sadar akan pentingnya menghindari pembuangan limbah cair ke sungai sehingga kualitas air kita bisa semakin baik dan terkendali."

Collaboration is also key into Wahyu menekankan agar pemerintah kota berkolaborasi dengan pihak kelurahan dan kecamatan, serta menawarkan semacam hadiah untuk menarik minat mereka agar lebih aktif dan antusias mengikuti lomba ini. competition.

"Tentu saja, kompetisi ini dapat direplikasi atau diterjemahkan ke dalam proyek-proyek aksi iklim mengingat sebagian besar lokasinya berada di desa-desa iklim. Dengan demikian, ini bisa menjadi semacam sinergi antara program adaptasi dan mitigasi. Terutama untuk sampah di sungai," tambahnya. Selain itu, mengingat Banjarmasin berada di hilir, salah satu tujuan kota ini adalah untuk melihat apakah kabupaten dan/atau kota di daerah hulu dapat meniru apa yang dilakukan Banjarmasin untuk menciptakan sinergi solusi bagi permasalahan di daerah. 

Dari sisi pemangku kepentingan lokal, Ibu Dwi Naniek Muhariyani, ST, MT, Kepala Bidang Tata Lingkungan DLH menyatakan bahwa ada kelompok-kelompok kecil di tingkat RT yang secara aktif menjaga kebersihan lingkungan di sekitarnya. "Tidak mungkin polanya berubah dari tidak membuang sampah. Untuk pemangku kepentingan sungai, mereka akan tetap menjadi pemangku kepentingan meskipun dalam beberapa hal bisa saja digantikan atau bergabung dengan kelompok atau forum peduli sungai yang lain," katanya. 

Ia juga menambahkan bahwa sebagian besar masyarakat di sekitar sungai juga aktif dalam kelompok-kelompok masyarakat lainnya seperti Dasaswisma, PKK, Proklim, dan lain-lain. "Mereka semua memiliki komitmen yang sama untuk menjaga lingkungannya," pungkasnya. 

Dinas Lingkungan Hidup Kota Banjarmasin sebagai pemrakarsa program Maharagu Sungai memiliki waktu yang terbatas untuk melakukan edukasi kepada masyarakat, peran pemangku kepentingan sungai menjadi sangat penting pada saat ini karena mereka sering berinteraksi dengan masyarakat yang tinggal di sekitar sungai. Hal ini memungkinkan mereka untuk terus mengadvokasi pentingnya pengelolaan sungai secara rutin dan kolektif. 

"Stakeholder sungai dipilih dari masyarakat itu sendiri sehingga sangat mudah bagi mereka untuk berinteraksi dan mengedukasi masyarakat sekitar, tentu saja untuk mengedukasi kita memberikan bekal kepada mereka, kita kumpulkan secara rutin untuk berdiskusi barangkali apa yang mereka hadapi dilapangan apakah ada kendala atau tidak, dan juga kita juga ada grup whatsapp untuk memudahkan koordinasi sehingga jika ada kendala bisa diatasi dengan cepat.", tambah Ibu Naniek. Berdasarkan pengalaman sebelumnya di Basirih, ternyata banyak ibu-ibu yang ikut dalam kelompok Maharagu Sungai, dengan adanya kegiatan ini, ibu-ibu, anak-anak, dan pemuda semua ikut berpartisipasi aktif menjaga lingkungannya," tambah Ibu Naniek.

"Kalau saya lihat, mereka berasal dari latar belakang yang berbeda, tingkat kemiskinan dan pendidikan juga berbeda, kebanyakan dari kalangan menengah ke bawah. Selama kegiatan berlangsung, mereka semua sangat antusias, pada tahap awal mereka mampu membuat spanduk yang berisi himbauan untuk tidak membuang sampah ke sungai dan mengajak masyarakat sekitar. Sebagai contoh, Basirih menerima banyak kiriman sampah eceng gondok dari hulu sungai, sehingga mereka kesulitan untuk menanganinya sendiri, sehingga membutuhkan bantuan dari kami," tambahnya. 

Saat ini terdapat 14 kriteria penilaian bagi para pemenang lomba, antara lain peran pemangku kepentingan sungai, gerakan kebersihan/peran serta masyarakat, perencanaan kegiatan yang dilakukan pemangku kepentingan, penghijauan bantaran sungai, pengelolaan sampah di bantaran sungai, komitmen warga peduli Sungai Maharagu program revitalisasi sungai, fungsi sungai, PHBS atau perilaku hidup bersih dan sehat, kelembagaan masyarakat/komunitas peduli sungai di wilayah setempat, administrasi, gerakan babasah 100.000 rumah bersih dari sampah), serta inovasi (peran aktif dan mengajak pihak-pihak di luar wilayah administratif untuk ikut berperan aktif juga.

Saat ini, kompetisi Maharagu Sungai melibatkan mereka yang tinggal di desa dan kecamatan di mana sungai itu berada, dengan kriteria sungai minimal 15 meter, yang menjadi faktor utama dalam menjaga lingkungan. Dewan juri terdiri dari berbagai organisasi dan pemangku kepentingan terkait, termasuk jurnalis dan para ahli dari berbagai sektor lingkungan hidup serta Forum Komunitas Hijau/Melingai. 

Menurut Bapak Lukiran selaku juri senior maharagu sungai, beliau berpendapat bahwa berdasarkan aksi pertama, kedua dan ketiga selalu ada peningkatan dari segi kebersihan sungai, namun ada tantangan tersendiri sesuai dengan kondisi masing-masing sungai, contohnya ada sungai yang di kiri dan kanannya terdapat pemukiman warga, ada juga yang menjadikan sungai sebagai objek wisata sungai, seperti Sungai Biuku.

Untuk mengurangi dampak perubahan iklim, kompetisi Maharagu Sungai yang berpusat pada masyarakat ini mendorong perencanaan pengelolaan sampah yang lebih inovatif, kreatif, dan interaktif. Hal ini sangat penting karena pengelolaan sampah yang tidak tepat (insinerasi, pengangkutan, dll.) dapat menyebabkan pelepasan lebih banyak gas rumah kaca seiring dengan penguraian sampah yang dapat melepaskan sejumlah besar CO2 dan gas metana. Melalui kompetisi Maharagu Sungai, keterlibatan aktif masyarakat dalam mengurangi sampah dan menjaga lingkungan yang bersih menjadi bahan pertimbangan dan dirayakan. 

Kontributor: Kesuma Yanti

Posting Terkait

UCLG ASPAC, through the CRIC Project, engaged representatives from local governments, technical experts, and members of working groups from the 10 CRIC pilot cities to visit and learn from Banyumas’ community-driven and integrated waste management system, which serves as a model for decentralised climate action. Banyumas has made significant strides in solid waste management, in […]

The Climate Resilience and Innovation Forum (CRIF) 2025, in partnership with the Jakarta Special Capital Region and with support from the European Union brought together over 300 participants from across Asia and Europe to accelerate local climate action, the event marked the conclusion of the Climate Resilient and Inclusive Cities (CRIC) Project. Held in Jakarta, […]

Sustainable climate action in cities could be catalysed with the help of financing. Recognising this, the UCLG ASPAC-implemented Climate Resilient and Inclusive Cities (CRIC) Project held its fourth Panel of Experts was in Kochi, Kerala, India from 4-6th February 2025 at the Marriott Hotel.  Organised in collaboration with the All-India Institute of Local Self-Government (AIILSG) […]

Panel Ahli Tematik CRIC, dengan tema "Menuju Kota yang Inklusif dan Tangguh: Ekosistem dan Pengelolaan Sampah untuk Masa Depan yang Berkelanjutan," diselenggarakan di Nusa Dua, Bali, Indonesia pada tanggal 28-31 Oktober 2024.