Kota Banjarmasin melanjutkan upayanya dalam pelatihan pengembangan Rencana Aksi Iklim dengan Pelatihan Mitigasi Ketiga (M3) dalam kerangka Proyek Climate Resilient and Inclusive Cities (CRIC) UCLG ASPAC yang didanai oleh Uni Eropa (EU). Pelatihan ini bertujuan untuk mengumpulkan data dasar, menghitung data mitigasi, serta melakukan penandaan dan penilaian terhadap aksi mitigasi perubahan iklim.
Untuk meningkatkan upaya dalam pelatihan pengembangan Rencana Aksi Iklim, kota ini mengundang berbagai pemangku kepentingan, termasuk perwakilan Kelompok Kerja Iklim (Pokja) CRIC, perusahaan seperti PLN UPDK Barito, PLN UP3, PDAM, dan PDPAL, perwakilan pemuda dari Borneo Urban Lab dan Staf Pemuda Wali Kota, aktivis lingkungan, tokoh masyarakat, serta perwakilan organisasi penyandang disabilitas seperti HWDI dan PPDI.
Pelatihan selama tiga hari ini juga dipimpin langsung oleh para ahli dari CCROM-SEAP IPB, menghasilkan sesi pelatihan yang sangat dinamis, interaktif, dan produktif. Para peserta pelatihan juga secara langsung memberikan banyak masukan dan data tambahan sepanjang sesi, memungkinkan perhitungan dilakukan secara instan. Kota Banjarmasin, yang telah memenuhi berbagai kebutuhan data berkat keterlibatan kuat dari berbagai pemangku kepentingan, mengalami perubahan signifikan dalam Pelatihan Mitigasi Ketiga ini. Kemajuan dalam perhitungan data dasar dan estimasi mitigasi di Banjarmasin sangat dipengaruhi oleh meningkatnya kesadaran multi-pemangku kepentingan terhadap kelengkapan data dan kontribusi mereka dalam perumusan Rencana Aksi Iklim.
Bapak La Ode Muhammad Abdul Wahid, seorang ahli dari CCROM, melakukan perhitungan data dasar dan mitigasi. Kelompok kerja juga secara aktif mengajukan pertanyaan mengenai peran Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBM) dalam perhitungan mitigasi, serta penggunaan PJU atau penerangan jalan umum dan panel surya dari Dinas Perhubungan, motor listrik, serta bahan bakar dari sektor swasta dalam menghasilkan emisi. Seluruh masukan dari kelompok kerja ini menjadi tambahan data yang signifikan bagi Kota Banjarmasin dalam menyusun Rencana Aksi Iklim yang lebih akurat dan komprehensif.
Pada hari pertama, kelompok sektor limbah melakukan perhitungan data dasar dan mitigasi secara menyeluruh. Hal ini memungkinkan mereka untuk menyelesaikan penandaan langkah-langkah utama dalam rencana mitigasi perubahan iklim Kota Banjarmasin pada hari kedua dan ketiga.
Selain itu, partisipasi Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, Perikanan, dan Peternakan dalam sektor AFOLU sangat membantu dalam proses konfirmasi ketersediaan data, perhitungan, serta penyusunan data dasar dan mitigasi di sektor pertanian.
Kini, Kota Banjarmasin perlu menyelesaikan perhitungan sektor energi serta memfinalisasi penandaan aksi prioritas yang telah ditetapkan dan diselesaikan pada hari ketiga pelatihan. Pada akhir lokakarya, Kota Banjarmasin diharapkan dapat memprioritaskan langkah-langkah mitigasi berdasarkan Key Category Analysis (KCA) serta menghitung total emisi gabungan dari ketiga sektor utama: energi, limbah, dan AFOLU.
Kegiatan selama tiga hari ini ditutup oleh Ibu Ain Roselly Syahsalina, ST, selaku Kepala Bidang Infrastruktur dan Perencanaan Wilayah Bappeda Litbang. Dalam sambutannya mewakili Kepala Bappeda Litbang, Ibu Selly mengucapkan terima kasih kepada seluruh peserta atas keterlibatan dan antusiasme mereka selama sesi panduan teknis. Ia juga berharap bahwa panduan teknis ini akan menghasilkan rencana aksi yang dapat diimplementasikan untuk mengatasi lonjakan perubahan iklim yang dirasakan di Kota Banjarmasin.
Kontributor: Kesuma Yanti – Petugas Lapangan untuk Wilayah Kalimantan