
Kota Samarinda, salah satu dari 10 kota percontohan Proyek CRIC, telah mengambil langkah penting dalam upaya beradaptasi terhadap perubahan iklim dengan menyelesaikan Pelatihan Pengembangan Rencana Aksi Iklim (CAP) untuk Adaptasi pada 17-18 Oktober 2023.
Pelatihan ini, yang dilaksanakan setelah selesainya pelatihan mitigasi pada tahun 2022, telah membekali Kelompok Kerja Kota Samarinda (Pokja) dengan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk menyusun serta mengimplementasikan Rencana Aksi Iklim (CAP) yang komprehensif dan efektif.
Pelatihan ini dihadiri oleh sekitar 20-30 peserta dari kelompok kerja (Pokja), 3 perwakilan tim CCROM, serta tim penyusun CAP, dan difasilitasi oleh petugas lapangan wilayah Kalimantan.
Berbagai pencapaian utama dan hasil dari pelatihan ini meliputi penyelesaian penandaan program-program terkait aksi iklim yang selaras dengan Rencana Strategis (Renstra) Kota Samarinda. Langkah ini akan membantu memastikan bahwa Rencana Aksi Iklim (CAP) sejalan dengan tujuan pembangunan kota secara keseluruhan.
Hasil lainnya adalah selesainya analisis kerentanan kota, yang mengidentifikasi beberapa kelurahan dengan potensi dampak tinggi akibat perubahan iklim dan memerlukan tindakan adaptasi. Analisis ini akan digunakan untuk memprioritaskan langkah-langkah adaptasi dalam Rencana Aksi Iklim (CAP) kota.
Pelatihan ini juga mengidentifikasi tiga bencana yang menjadi urgensi di Kota Samarinda, yaitu banjir, tanah longsor, dan kekeringan. Bapak Basuni dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda memberikan masukan terkait hasil analisis urgensi, yang nantinya akan diverifikasi dan dikonfirmasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Pada saat pelatihan berlangsung, BPBD juga sedang mempersiapkan data terkait tanah longsor.
Penyelesaian pelatihan Rencana Aksi Iklim untuk adaptasi merupakan pencapaian penting dalam perjalanan Kota Samarinda menuju kota yang lebih tangguh terhadap perubahan iklim. Kini, Kelompok Kerja (Pokja) semakin memahami peran mereka dalam mengimplementasikan CAP setelah selesai disusun, serta dalam merancang program untuk wilayah-wilayah dengan dampak tinggi. Bapak Kumbawan Wibisono, S.Pt, M.Si. dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Samarinda, yang juga merupakan anggota Pokja, menekankan bahwa kelompok kerja dapat memainkan peran kunci dalam menjalankan program-program sesuai dengan lokasi prioritas. Hal ini bertujuan untuk mengurangi permasalahan sosial dan ekonomi di wilayah-wilayah tersebut serta mendukung ketahanan iklim yang inklusif.
Akhirnya, sebagaimana dibahas dalam pelatihan, Rencana Aksi Iklim (CAP) juga akan memperhatikan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 11 tentang Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan, SDG 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim, dan SDG 16 tentang Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh. Pengembangan, peningkatan, penataan, dan peningkatan kualitas SDGs dan indikatornya diharapkan dapat meningkatkan kapasitas adaptasi Kota Samarinda terhadap perubahan iklim
Kontributor: Kesuma Yanti, Petugas Lapangan untuk Wilayah Kalimantan, Proyek CRIC