Setelah serangkaian kegiatan mitigasi, adaptasi dan bantuan teknis yang sukses di Kota Mataram, Proyek Kota Berketahanan Iklim dan Inklusif (Climate Resilient and Inclusive Cities/CRC)mengakhiri kerja samanya dengan Kelompok Kerja (Pokja) Iklim Kota Mataram melalui pendampingan teknis terakhir di sektor mitigasi.
Diselenggarakan pada tanggal 29-30 November 2023, acara ini menandai tonggak penting dalam perjalanan kota Mataram untuk mengembangkan Rencana Aksi Iklim (Climate Action Plan/CAP) yang komprehensif.
Bantuan teknis ini dihadiri oleh total 31 peserta (65% perempuan) dari berbagai instansi pemerintah daerah di Kota Mataram.Didukung oleh para ahli dari CCROM-SEAP IPB, bantuan teknis selama dua hari ini memungkinkan Pokja Kota Mataram untuk mendiskusikan hasilmendiskusikan hasil perhitungan mitigasi iklim dan menetapkan aksi atau program mitigasi prioritas strategis untuk perjalanan iklim Kota Mataram.
Ahli dari CCROM-SEAP IPB, Dr. Muhammad Ardiansyah, menjelaskan aspek pelaporan inventaris rumah kaca dan analisis kategori utama (KCA). Selain itu, ia mengungkapkan bagaimana KCA digunakan untuk mengidentifikasi sumber emisi yang bertanggung jawab atas setidaknya 95% dari total emisi kota. Emisi-emisi ini memerlukan perhatian lebih dalam pengendalian kualitas karena akurasi mereka sangat mempengaruhi keseluruhan inventaris GRK.

Diskusi mengenai hasil KCA di Kota Mataram tampaknya mengejutkan para peserta karena mengidentifikasi biogas sebagai salah satu tindakan mitigasi utama. Ruang terbuka hijau atau RTH (Ruang Terbuka Hijau) muncul sebagai pilihan yang disukai, yang mendorong eksplorasi lebih dalam terhadap tantangan dan peluang yang ada. Beberapa peserta menambahkan bahwa implementasi biogas di kota ini tidak pernah mudah karena rendahnya penerimaan masyarakat dan masalah lahan, sehingga menyoroti perlunya solusi lokal yang disesuaikan.
Mulai tahun 2021, pelatihan dan asistensi teknis menunjukkan bagaimana komitmen terhadap masa depan yang tangguh tercermin dalam perjalanan aksi iklim Kota Mataram. Pelatihan ini mencakup inventaris gas rumah kaca, pengembangan dasar data, dan eksplorasi berbagai skenario mitigasi. Asistensi teknis terakhir berhasil membantu anggota kelompok kerja dalam menyepakati kriteria mitigasi utama dan meninjau hasil analisis kategori utama (KCA) yang informatif.
Selain itu, Pokja Kota Mataram juga menerima materi mengenai praktik terbaik dari Kota Ternate dan Gorontalo dalam pengembangan dokumen rencana aksi iklim yang disampaikan oleh Rizki Satria, Petugas Lapangan untuk Wilayah Sulawesi, yang dikirim ke Kota Mataram untuk mendukung asistensi teknis. Pertukaran pengetahuan ini memperkuat upaya kolektif untuk mencapai ketahanan iklim di seluruh 10 kota percontohan Proyek CRIC, yang juga merupakan anggota kota UCLG ASPAC.
Pelatihan berakhir dengan catatan positif. Mr. Andi Kurniawan dari BPBD mengungkapkan antusiasme dan harapannya, “Saya sebelumnya tidak menyadari tentang perubahan iklim. Pelatihan ini membuka wawasan saya bahwa kota ini telah melakukan beberapa aktivitas dengan emisi tinggi. Saya berharap PLN dapat lebih banyak menggunakan sumber energi hijau untuk menghasilkan listrik. Saya juga berharap akan ada lebih banyak regulasi yang mendukung penggunaan panel surya. Kami memiliki keterbatasan anggaran untuk transportasi massal publik. Saat ini, mungkin langkah terbaik yang bisa kami lakukan adalah mengganti lampu halogen untuk penerangan jalan umum (PJU/dengan lampu LED.”Penerangan Jalan Umum) dengan lampu LED, meskipun tindakan ini berada di peringkat ke-10 dalam prioritas aksi mitigasi kami.”
Melangkah maju dengan visi bersama untuk masa depan yang berkelanjutan di Mataram, Pokja kota dan petugas lapangan CRIC untuk Wilayah Timur, Yusak Subnafeu, akan bekerja sama untuk menghitung emisi GRK dasar kota, dimulai dari sektor energi yang krusial. Hasil perhitungan ini akan memungkinkan mereka menyediakan semua data mitigasi yang diperlukan untuk mengembangkan Common Reporting Format (CRF). Dokumen komprehensif ini tidak hanya akan mencatat emisi dan penyerapan GRK di Mataram, tetapi juga merinci data penting seperti faktor emisi tersirat dan data aktivitas, sehingga memberikan gambaran yang jelas tentang jejak karbon Kota Mataram.
Analisis Common Reporting Format (CRF) ini akan menjadi salah satu hasil utama atau pilar kunci dalam dokumen Rencana Aksi Iklim Kota Mataram, yang saat ini sedang disusun oleh tim khusus yang dipimpin oleh Ibu Humairo Saidah, dosen Teknik Hidraulika dan Sumber Daya Air di Universitas Mataram, serta anggota aktif Pokja Mataram.
Kontributor: Dina Saputri – Koordinator Proyek CRIC
###