Setelah menyelesaikan serangkaian pelatihan Rencana Aksi Iklim (CAP) dan bantuan teknis pada bulan November 2023, konsultan CAP kota Bandar Lampung mendorong finalisasi proses analisis dan penulisan CAP.
Fase penting ini melibatkan konfirmasi hasil analisis sementara dan memantapkan target adaptasi kota Bandar Lampung, yang membuka jalan menuju masa depan yang tangguh dan berkelanjutan.
Tim konsultan CAP, yang terdiri dari Bapak Fritz Akhmad Nuzir (ketua tim), Rein Susinda Hesty (Kepala Bidang Ekonomi dan Sumber Daya Alam Bappeda), Martin Muljana (Dosen Perencanaan Wilayah dan Kota, Institut Teknologi Sumatera/ITERA), Budi Sulistyono (staf fungsional Dinas Lingkungan Hidup), mengadakan rapat koordinasi pada hari Senin, 11 Desemberth, 2023. Dalam pertemuan tersebut, Field Officer (FO) Wilayah Jawa dan Koordinator Proyek CRIC memberikan masukan yang luas mengenai perkembangan terkini dan analisis pengembangan laporan CAP.
Diskusi mengenai kemajuan pengembangan CAP menghasilkan beberapa hal penting, termasuk mengkonfirmasi keakuratan data yang disediakan dalam dokumen Kajian Risiko Bencana (KRB) terbaru dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Lebih jauh lagi, tim mengidentifikasi 25 indikator potensial di tujuh aspek pembangunan yang sangat penting bagi Bandar Lampung: Pendidikan; Kesehatan; Ekosistem; Kemiskinan; Infrastruktur; Mata Pencaharian; Tata Kelola. Analisis terhadap indikator-indikator tersebut akan memberikan gambaran yang komprehensif mengenai kerentanan kota terhadap perubahan iklim di berbagai sektor. Selain itu, pertemuan ini juga bertujuan untuk mempersiapkan bahan presentasi yang akan didiskusikan dengan Kelompok Kerja (Pokja) Iklim kota.
Keesokan harinya, FO dan PC proyek CRIC mengadakan rapat koordinasi dengan seluruh anggota Pokja dan konsultan CAP. Pertemuan ini dihadiri oleh 21 peserta (10 laki-laki dan 11 perempuan) dari dinas-dinas kota dan perwakilan universitas. FO dan konsultan CAP juga berkolaborasi untuk mempresentasikan hasil sementara dari analisis adaptasi dan mitigasi iklim, karena pemahaman bersama sangat penting untuk membangun konsensus dan membentuk Rencana Aksi Iklim (CAP) yang efektif.
Pertemuan ini juga bertujuan untuk menentukan target adaptasi kota, yang belum diputuskan pada saat pelatihan adaptasi dan bantuan teknis sebelumnya.
"Target adaptasi harus lebih spesifik daripada hanya bertujuan untuk mengurangi potensi dampak di kecamatan tertentu. Akan lebih baik jika mempertimbangkan indikator-indikator yang mewakili berbagai isu pembangunan di wilayah-wilayah sekitar Bandar Lampung.", ujar Bapak Budi Sulistyono dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta yang memberikan pendapatnya dalam diskusi target adaptasi.
Pokja sepakat untuk memprioritaskan pengurangan jumlah risiko iklim yang berdampak tinggi dan paling tinggi pada tahun 2026 di Bandar Lampung. Dengan menetapkan target pada tingkat dampak tinggi dan potensi dampak tertinggi di tingkat kecamatan, kota ini diharapkan dapat lebih mudah mencapai target adaptasi dengan fokus pada indikator utama di kecamatan-kecamatan yang paling rentan.
Dalam hal mitigasi, kota ini menghasilkan emisi gas rumah kaca (GRK) yang paling signifikan, yang berasal dari transportasi dan penggunaan listrik rumah tangga. Gabungan emisi GRK dari kedua sub-sektor ini mencapai hampir 65% dari total emisi kota. Temuan ini konsisten dengan hasil penandaan mitigasi, yang mencantumkan pembentukan sistem perencanaan transportasi umum dan penggantian lampu jalan dengan emisi yang lebih rendah sebagai dua aksi mitigasi prioritas di kota Bandar Lampung.
Akhirnya, pertemuan diakhiri dengan beberapa catatan dan harapan, termasuk upaya untuk mengadvokasi hasil CAP ke dalam Dokumen Perencanaan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) yang saat ini sedang dalam proses penyusunan.
Kontributor: Dwi Ichsan Kurniawan - Petugas Lapangan CRIC untuk Wilayah Jawa