Pascaline Gaborit, mitra CRIC dan Pendiri Pilot4Dev mengunjungi kota percontohan Banjarmasin, Kalimantan Selatan, untuk berinteraksi dengan perwakilan pemerintah daerah terkait isu-isu mendesak seperti air, sanitasi, dan pengelolaan sampah.
Kunjungan ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk mengatasi tantangan perkotaan yang unik di Banjarmasin, termasuk banjir, pengelolaan limbah, dan kelestarian lingkungan.
Memahami Tantangan Geografis dan Perkotaan Banjarmasin

Banjarmasin, sebuah kota yang berkembang pesat dan terletak di bawah permukaan laut, menghadapi berbagai tantangan lingkungan, salah satunya adalah penanganan banjir. Selama kunjungan tersebut, perwakilan dari lembaga-lembaga utama kota, termasuk Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappedalitbang), Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), dan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), berbagi informasi terbaru mengenai upaya-upaya yang telah dilakukan dalam menangani masalah-masalah tersebut. Diskusi difokuskan pada pengintegrasian manajemen banjir ke dalam perencanaan kota yang lebih luas dan strategi pembangunan ketahanan.
Ibu Ain Roselly, perwakilan dari Bappedalitbang, menyampaikan presentasi mendalam tentang kondisi geografis Banjarmasin. Beliau menyoroti bahwa 75% wilayah kota ini telah dibangun, dengan bangunan perumahan, komersial, dan jasa yang menggantikan lahan terbuka dan ruang alam. Sebagai kota dengan kepadatan penduduk tertinggi di Kalimantan Selatan, dengan jumlah penduduk lebih dari 6.860 jiwa per kilometer persegi, urbanisasi yang cepat telah meningkatkan permintaan akan lahan, dan sebagian besar pembangunan dilakukan di sepanjang bantaran sungai-daerah yang rentan terhadap banjir.
Situasi ini diperparah dengan berkurangnya kapasitas sungai yang disebabkan oleh sedimentasi dan limbah dari kegiatan di sekitarnya, sehingga drainase menjadi tidak efisien. Selain itu, pasang surutnya Sungai Barito dan Sungai Martapura, dengan fluktuasi ketinggian air hingga 2 meter, meningkatkan risiko banjir, terutama pada saat air laut pasang dan hujan lebat.
Untuk mengatasi tantangan-tantangan ini, Banjarmasin telah meluncurkan Program Ketahanan Banjir Perkotaan Nasional (NUFReP) bekerja sama dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dan Balai Wilayah Sungai (BWS) III. Program ini bertujuan untuk mengendalikan banjir dengan meningkatkan kapasitas sistem sungai, meningkatkan infrastruktur drainase, dan membangun fasilitas pengendalian banjir baru berdasarkan studi komprehensif tentang sistem sungai kota.
Solusi Berbasis Alam dan Keterlibatan Masyarakat
Ibu Suri Sudarmadiyah, Kepala Dinas PUPR Kota Banjarmasin, menekankan bahwa program NUFReP mengintegrasikan solusi berbasis alam untuk meningkatkan proses mitigasi banjir secara alami dan secara aktif melibatkan masyarakat setempat dalam upaya-upaya ketahanan. Program ini mencakup pembangunan sistem drainase terpadu dan pembangunan rumah pompa, yang semuanya didukung oleh partisipasi aktif masyarakat.
Tujuannya tidak hanya untuk mengurangi banjir, tetapi juga untuk menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab masyarakat terhadap upaya-upaya pengelolaan banjir setempat. Melalui praktik-praktik partisipatif dan inklusif, program NUFReP bertujuan untuk memberikan solusi jangka panjang yang berkelanjutan yang disesuaikan dengan tantangan unik lanskap perkotaan Banjarmasin.
Kunjungan Lapangan ke Kecamatan Pemurus Dalam


Pascaline Gaborit mengunjungi Pemurus Dalam, sebuah kecamatan yang terkena dampak banjir secara signifikan, terutama pada saat "rob" (air laut pasang) dan hujan lebat. Kunjungan lapangan ini memberikan wawasan yang berharga tentang kehidupan sehari-hari warga, yang sebagian besar dari mereka menghadapi banjir berulang dan tantangan-tantangan terkait.
Wawancara dengan penduduk mengungkapkan ketangguhan mereka dalam menghadapi banjir yang sering terjadi, serta keprihatinan yang mendalam terhadap masa depan. Para pemangku kepentingan berbagi pengalaman tentang inisiatif penanggulangan banjir yang dilakukan oleh pemerintah daerah, serta memberikan umpan balik mengenai langkah-langkah yang efektif dan hal-hal yang perlu ditingkatkan. Masukan-masukan ini menyoroti pentingnya tata kelola pemerintahan daerah yang kuat dalam penanggulangan banjir dan peran penting ketangguhan masyarakat dalam tanggap bencana.

Sebuah Model Kolaborasi Lintas Sektoral
Pertukaran kolaboratif antara pemerintah daerah, penduduk, dan para ahli internasional di Banjarmasin merupakan contoh utama bagaimana pertukaran pengetahuan lintas sektoral dapat menghasilkan solusi yang efektif untuk ketahanan kota. Dengan mengintegrasikan keahlian ilmiah, kearifan lokal, dan keterlibatan masyarakat, Banjarmasin meletakkan dasar bagi masa depan yang berkelanjutan dan berketahanan.
Kunjungan ini menggarisbawahi peran penting kemitraan dalam mengatasi tantangan perkotaan yang kompleks seperti pengelolaan banjir. Ketika kota-kota di seluruh dunia bergulat dengan dampak perubahan iklim, upaya Banjarmasin memberikan model yang berharga bagi kota-kota lain yang ingin membangun ketangguhan melalui pendekatan yang inklusif dan berbasis masyarakat dalam perencanaan kota dan pendekatan pengelolaan lingkungan.
Sebagai kesimpulan, upaya berkelanjutan yang dilakukan Banjarmasin untuk meningkatkan pengelolaan banjir, sanitasi, dan sistem persampahan, serta komitmennya terhadap tata kelola pemerintahan yang partisipatif, merupakan langkah penting untuk menciptakan kota yang lebih tangguh dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.
#PengelolaanBanjir #KetahananKota #PertukaranPengetahuan #Keberlanjutan #Banjarmasin #AdaptasiIklim #KeterlibatanMasyarakat #KotaUntukSemua
Kesuma Yanti adalah Petugas Lapangan untuk Wilayah Kalimantan dan Jawa Barat di Proyek CRIC.