Istilah Build Back Better pertama kali diciptakan di Indonesia setelah bencana tsunami yang melanda Aceh dan Nias pada tahun 2004. Bencana tersebut, yang merenggut sekitar 230.000 nyawa, termasuk 167.000 di Aceh dan Nias.
Setelah itu, istilah ini digunakan dalam laporan Bank Dunia tahun 2005, yang merinci inventarisasi awal kerusakan dan kehancuran.
Sejak saat itu, istilah "Bangun Kembali Lebih Baik" menjadi terkenal sebagai strategi untuk pemulihan bencana, yang digunakan dalam banyak publikasi dan laporan mengenai pengurangan kerentanan dan mengilhami masyarakat di seluruh dunia untuk mempersiapkan diri menghadapi bencana dan guncangan di masa yang akan datang, sehingga dapat mengurangi jumlah korban jiwa dan kerusakan. Istilah ini sekarang mencakup kerentanan dan guncangan fisik, sosial, lingkungan dan ekonomi.
Sepuluh tahun setelah pertama kali diperkenalkan, Build Back Better dijelaskan dalam Kerangka Kerja Sendai PBB untuk Pengurangan Risiko Bencana pada tahun 2015. Hal ini kemudian diadopsi oleh negara-negara anggota PBB pada Sidang Umum PBB pada tanggal 3 Juni 2015, sebagai salah satu dari empat prioritas dalam Kerangka Kerja Sendai untuk pemulihan bencana, pengurangan risiko, dan pembangunan berkelanjutan.
Kunjungan Mitra CRIC ke Bandar Lampung
Tema "Build Back Better" juga menjadi pusat diskusi dalam kunjungan mitra Climate Resilient and Inclusive Cities (CRIC) ke Kota Bandar Lampung pada tanggal 26-28 Agustus 2024.
Pada hari pertama, CRIC memfasilitasi pertemuan koordinasi kelompok kerja iklim di Hotel Sheraton Lampung yang dihadiri oleh 22 perwakilan dari unit kerja pemerintah daerah.
Diskusi kelompok kerja dibuka oleh Hizbullah Arief, Manajer Proyek CRIC, yang menyoroti pentingnya kota-kota percontohan CRIC, termasuk Bandar Lampung, untuk menyelesaikan Rencana Aksi Mitigasi dan Adaptasi Iklim (CAP) mereka karena proyek ini memasuki tahun terakhir. Laporan CAP akan merinci potensi aksi adaptasi dan mitigasi di setiap kota.
Arief juga menginformasikan kepada para anggota kelompok kerja bahwa CRIC akan memfasilitasi acara panel ahli di Bali dengan tema "Menuju Kota yang Inklusif dan Tangguh: Ekosistem dan Pengelolaan Sampah untuk Masa Depan yang Berkelanjutan". Panel ahli ini akan membahas solusi berbasis alam, pengelolaan limbah padat dan tata kelola bioregional, yang menawarkan kesempatan kepada kota-kota percontohan CRIC untuk belajar dari kerja sama segitiga antara kota-kota di Asia Selatan, Eropa, dan Asia Tenggara.
Youssef Diab kemudian menyapa seluruh anggota kelompok kerja dan menyampaikan tujuannya untuk mendalami kondisi terkini kota Bandar Lampung, termasuk yang berkaitan dengan banjir.
Bandar Lampung merupakan kota yang beriklim hutan hujan tropis, dengan curah hujan yang tinggi sepanjang tahun. Kota ini rentan terhadap bencana yang berkaitan dengan iklim, seperti peristiwa hidrometeorologi, seperti bencana banjir yang terjadi pada tanggal 12 April 2024. Hujan dengan intensitas tinggi mengguyur beberapa wilayah di kota ini, dengan lebih dari 780 keluarga terdampak.
Bertemu dengan Wali Kota
Keesokan harinya, pada hari Selasa, 27 Agustus 2024, mitra dan tim CRIC berkesempatan untuk bertemu dengan Wali Kota Bandar Lampung, Hj. Eva Dwiana E.E., M. Si atau Bunda Eva. Eva Dwiana S.E., M.Si atau yang akrab disapa Bunda Eva. Dalam pertemuan tersebut, Walikota Eva menyampaikan bahwa Kota Bandar Lampung memiliki 4 satgas tanggap darurat yang terdiri dari tim Dinas Lingkungan Hidup, Satuan Polisi Pamong Praja, Dinas Pemadam Kebakaran, dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Mereka akan menjadi tim tanggap darurat pertama setiap kali terjadi bencana di kota ini. "Tanggap darurat telah berjalan dengan baik di kota ini sejak pertama kali dibentuk pada tahun 2023," katanya.
Walikota Eva menyebutkan program percontohan kota yang disebut “Grebek Sungai” Selain itu, Kota Bandar Lampung juga memiliki program yang disebut "Grebek Sungai" yang melibatkan para pemimpin dan masyarakat setempat. Beliau juga menekankan perlunya koordinasi lintas batas, karena beberapa sungai yang berdampak pada kota ini berada di luar kewenangan administratifnya.
Dalam sebuah pertemuan dengan seluruh unit kerja pemerintah daerah, Prof. Youssef menyampaikan presentasi mengenai ketahanan kota dan Sistem Peringatan Dini. Beliau menjelaskan pentingnya adaptasi terhadap bencana terkait iklim dan tantangan lingkungan, dengan fokus untuk mendalami ketahanan kota, terutama sistem peringatan dini, yang saat ini sedang dikembangkan oleh proyek CRIC untuk kota-kota percontohan.
Mengutip laporan "Status Global Sistem Peringatan Dini Multi-Bahaya" (2023), Prof. Youssef mencatat bahwa ketahanan kota selalu menjadi konsep yang kontroversial. Dalam mata kuliah ini, ketahanan berkaitan dengan kapasitas untuk mengubah lintasan kota, selaras dengan istilah "Membangun Kembali Lebih Baik". "Setiap bencana memberikan kesempatan dan pembelajaran bagi masyarakat untuk membangun kembali dengan lebih baik, termasuk Kota Bandar Lampung," tutupnya.
Pertemuan dengan Universitas dan LSM Lokal
Selain komunikasi berbasis teknologi seperti sistem peringatan dini berbasis Internet of Things (IoT), solusi tanpa teknologi dan solusi berteknologi rendah juga memainkan peran penting pada saat terjadi bencana. Contoh solusi tanpa teknologi meliputi poster, mural, pembawa berita dan pelari, sedangkan solusi komunikasi berteknologi rendah dapat berupa bendera, peluit, dan megafon. Saluran-saluran ini memainkan peran penting dalam memperkuat pesan yang disampaikan melalui media lain, terutama di daerah-daerah yang kurang makmur dengan masyarakat yang memiliki akses terbatas ke teknologi namun memiliki risiko terbesar.
"Solusi tanpa teknologi dan berteknologi rendah juga kuat karena dapat berfungsi meskipun listrik dan jalur komunikasi mati. Solusi-solusi ini juga sangat penting bagi masyarakat yang memiliki tingkat melek huruf yang rendah atau yang menggunakan berbagai bahasa," ujarnya dalam sebuah diskusi dengan para dosen dari Universitas Bandar Lampung. "Pengetahuan ini memberdayakan Anda untuk membuat dan mengawasi mekanisme prediksi bahaya yang canggih, mengubah pandangan ke depan menjadi perlindungan perkotaan yang sangat penting," katanya.
Ia juga berbicara dengan staf Institut Teknologi Sumatera (ITERA) dan LSM lokal, seperti Mitra Bentala, WALHI, dan Yayasan Konservasi Way Seputih, serta mengunjungi desa pesisir Gudang Agen Pesawahan. Beliau mengamati secara langsung kondisi kehidupan masyarakat di daerah tersebut. Kunjungan ini membuka peluang baru untuk kerja sama di masa depan dalam penelitian dan pengembangan, memberikan informasi berharga yang diperlukan untuk mengembangkan perangkat tematik untuk membantu kota beradaptasi terhadap banjir dan bencana terkait iklim lainnya.
Menurut Prof. Youssef, dengan mengasimilasi teknik-teknik manajemen banjir yang inovatif dan solusi air hujan yang progresif, kemahiran dalam mitigasi bencana akan berkembang. "Ketika Anda menavigasi interaksi antara tata kelola dan aksi masyarakat, kemampuan Anda untuk mendorong inisiatif ketahanan yang berdampak akan menguat. Perjalanan Anda akan berujung pada peningkatan kapasitas untuk membina ekosistem perkotaan yang berkelanjutan dan tangguh yang siap menghadapi keadaan darurat di masa depan," pungkasnya.
–##–