
Kota Banjarmasin melanjutkan upaya khusus terhadap mitigasi dan adaptasi perubahan iklim dengan melanjutkan Rencana Aksi Iklim (Climate Action Plan/CAP).
Dalam rapat koordinasi baru-baru ini, tim penulis, yang dipimpin oleh Bapak Akbar Rahman, melaporkan perkembangan yang signifikan dalam CAP, dengan Bab 1, 2, 4, 5, dan 6 yang telah selesai.
Hasil dari dokumen CAP ini juga didiskusikan bersama oleh tim penyusun, Bappeda, dan tim penyusun RPJPD Kota Banjarmasin untuk mengintegrasikan masukan-masukan dari rencana aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim ke dalam dokumen perencanaan kota.
Penyusunan dokumen CAP bertujuan untuk menjadi inklusif dan partisipatif. Berbagai upaya telah dilakukan untuk melibatkan Kelompok Kerja (Pokja) secara aktif, memastikan keterlibatan mereka dalam proses dan mengumpulkan masukan langsung mengenai program aksi yang telah diidentifikasi sebelumnya, baik untuk mitigasi maupun adaptasi.
Program-program yang telah ditandai kemudian dianalisis, dengan program-program yang memiliki prioritas tinggi atau sangat tinggi dipilih dan 10-20 program prioritas teratas dipilih untuk mitigasi
Program-program prioritas tinggi, terutama yang diidentifikasi untuk aksi iklim, menjadi perhatian khusus bagi Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda). Terdapat rasa tanggung jawab yang kuat untuk mengatasi tantangan-tantangan yang mendesak ini. Rapat koordinasi ini juga menghasilkan masukan yang komprehensif, khususnya terkait SDG 6 (Air dan Sanitasi), dengan perwakilan dari PUPR dan Perkim yang memberikan masukan agar program-program ini dapat diintegrasikan dengan berbagai dinas, termasuk PUPR, DLH, Perkim, dan PD PAL, untuk mendapatkan solusi yang lebih menyeluruh.
Mengenai program sampah juga menjadi perhatian khusus dalam diskusi ini. Beberapa program di bidang ini telah dimasukkan ke dalam aksi prioritas tinggi. Beberapa kelompok kerja menyoroti perlunya kolaborasi dan sinergi antar instansi, dan menyarankan agar DLH tidak memikul tanggung jawab tersebut sendirian, namun PUPR dan Dinas Pendidikan perlu bekerja sama untuk mendorong pendidikan dini tentang pengelolaan sampah di sekolah-sekolah. Masukan lainnya adalah memperhatikan pengelolaan sampah di hotel, termasuk limbah padatnya.
Diskusi mengenai aksi mitigasi dan adaptasi prioritas masih menjadi hal yang sangat penting untuk mencapai pemahaman yang sama di antara OPD dan memastikan keberhasilan proses implementasi di masa depan.