CRIC Mengikuti Pertemuan SNDC Indonesia, Berbagi Pembelajaran dari Kota-kota Percontohan

CRIC Mengikuti Pertemuan SNDC Indonesia, Berbagi Pembelajaran dari Kota-kota Percontohan

Diterbitkan
Kategori
Penulis
Bagikan

Climate Resilient and Inclusive Cities (CRIC), sebuah proyek iklim di bawah United Cities and Local Governments Asia-Pacific (UCLG ASPAC) menghadiri diskusi kelompok terarah untuk pemangku kepentingan non-pemerintah yang diselenggarakan oleh Direktorat Adaptasi, Direktorat Jenderal Perubahan Iklim, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). 

Acara ini membahas kontribusi nasional (nationally determined contribution/NDC) Indonesia yang kedua di Hotel Santika Premier Slipi, Selasa, 14 Mei 2024. Kontribusi yang ditentukan secara nasional (NDC) adalah komitmen Inti dari Perjanjian Paris. NDC menjadi dasar bagi negara-negara untuk mencapai tujuan Perjanjian Paris. NDC berisi informasi mengenai target, kebijakan, dan langkah-langkah untuk mengurangi emisi nasional dan beradaptasi terhadap dampak perubahan iklim.

UNFCCC mensyaratkan NDC suatu negara untuk menjadi "upaya ambisius" untuk "mencapai tujuan Perjanjian ini" dan untuk "merepresentasikan perkembangan dari waktu ke waktu". Kontribusi harus ditetapkan setiap lima tahun dan harus didaftarkan oleh Sekretariat UNFCCC.

Acara SNDC Indonesia dimulai dengan presentasi dari DR. Irawan Asaad, S.T, M.Sc, Direktur Adaptasi yang baru, KLHK. Menurut DR. Irawan, dampak perubahan iklim terhadap sektor-sektor prioritas di Indonesia sudah sangat dekat. Sektor-sektor prioritas tersebut adalah: pangan, air, energi, kesehatan, ekosistem, dan kebencanaan.

Pertemuan tersebut membahas elemen adaptasi dalam kontribusi nasional Indonesia yang kedua. Elemen adaptasi merupakan bagian dari komitmen nasional untuk mendukung aksi iklim. Pertemuan ini mendengarkan para pemangku kepentingan dari pihak dan non-pihak dalam upaya untuk membuat dokumen SNDC menjadi lebih komprehensif.

DR. Irawan menyebutkan bahwa NDC kedua Indonesia akan dibangun berdasarkan pencapaian FNDC (NDC Pertama) yang memberikan rekomendasi untuk pembaharuan Komitmen Kontribusi Nasional pemerintah Indonesia dalam menjalankan aksi adaptasi dan mitigasi iklim.

Khusus untuk aksi adaptasi iklim, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah melakukan analisis kesenjangan terhadap perkembangan dan pencapaian Indonesia 1st NDC terdapat dalam NDC yang telah diperbaharui, NDC yang disempurnakan, Roadmap NDC, dan Komitmen Adaptasi Indonesia (AdCom) 2030.

Direktorat Adaptasi, KLHK, menindaklanjuti hasil analisis kesenjangan ini dengan melakukan pertemuan evaluasi atau diskusi kelompok terarah untuk mendapatkan masukan dari para pemangku kepentingan, baik yang berasal dari pihak pemerintah maupun non-pemerintah. Hasil yang diharapkan dari pertemuan evaluasi dan diskusi kelompok terfokus ini adalah rekomendasi yang akan disalurkan ke dalam enam kebijakan NDC, yaitu: regulasi, program, perangkat, literasi, praktik, dan pembiayaan.

Proyek CRIC berkontribusi dalam diskusi tersebut dengan membagikan pencapaian proyek di 10 kota percontohan (Cirebon, Bandar Lampung, Pekanbaru, Pangkalpinang, Samarinda, Banjarmasin, Kupang, Mataram, Gorontalo, dan Ternate).

Proyek CRIC dalam empat tahun terakhir telah menyelesaikan pelatihan mitigasi dan adaptasi yang menghasilkan "aset dasar" yang penting untuk mendukung aksi mitigasi dan adaptasi iklim.

Dalam hal aksi mitigasi, seluruh kota percontohan CRIC menghasilkan inventarisasi gas rumah kaca (GRK), baseline GRK, dan proyeksi emisi GRK hingga tahun 2030.

Untuk aksi adaptasi, CRIC menyampaikan pelajaran terpenting dari kota-kota percontohan kepada para peserta SNDC. Berbicara mengenai pentingnya data adaptasi, proyek CRIC mendukung semua kota percontohan untuk menghitung profil risiko dan kerentanan iklim mereka dan membuat daftar prioritas aksi adaptasi. Aset ini penting untuk menciptakan aksi adaptasi iklim yang nyata, termasuk untuk pengembangan alat dan pembiayaan.

DR. Irawan di akhir pertemuan FGD menyampaikan apresiasi kepada seluruh pemangku kepentingan non-pihak termasuk UCLG ASPAC yang telah mendukung aksi adaptasi iklim di lapangan. Pertemuan ini akan dilanjutkan dengan pertemuan FGD berikutnya sebelum pengajuan final kontribusi nasional Indonesia yang kedua kalinya kepada UNFCCC tahun depan.

–##–

* Hizbullah Arief adalah Manajer Proyek CRIC.

Posting Terkait

UCLG ASPAC, through the CRIC Project, engaged representatives from local governments, technical experts, and members of working groups from the 10 CRIC pilot cities to visit and learn from Banyumas’ community-driven and integrated waste management system, which serves as a model for decentralised climate action. Banyumas has made significant strides in solid waste management, in […]

The Climate Resilience and Innovation Forum (CRIF) 2025, in partnership with the Jakarta Special Capital Region and with support from the European Union brought together over 300 participants from across Asia and Europe to accelerate local climate action, the event marked the conclusion of the Climate Resilient and Inclusive Cities (CRIC) Project. Held in Jakarta, […]

Sustainable climate action in cities could be catalysed with the help of financing. Recognising this, the UCLG ASPAC-implemented Climate Resilient and Inclusive Cities (CRIC) Project held its fourth Panel of Experts was in Kochi, Kerala, India from 4-6th February 2025 at the Marriott Hotel.  Organised in collaboration with the All-India Institute of Local Self-Government (AIILSG) […]

Panel Ahli Tematik CRIC, dengan tema "Menuju Kota yang Inklusif dan Tangguh: Ekosistem dan Pengelolaan Sampah untuk Masa Depan yang Berkelanjutan," diselenggarakan di Nusa Dua, Bali, Indonesia pada tanggal 28-31 Oktober 2024.