Lorong Wisata Kota Makassar: Sebuah Model untuk Masyarakat Tangguh

Lorong Wisata Kota Makassar: Sebuah Model untuk Masyarakat Tangguh

Diterbitkan
Kategori
Penulis
Bagikan

Pada tanggal 5-7 Maret 2024, Proyek CRIC menyelenggarakan Panel Ahli Tematik tentang Ketahanan Perkotaan dan Sistem Peringatan Dini yang diadakan di Kota Makassar, Indonesia. Perwakilan dari 10 kota percontohan CRIC, kota tuan rumah Makassar, dan kota-kota dari Proyek Urban-Act (Medan, Minahasa Utara, dan Padang) menghadiri panel tersebut. Kegiatan ini diakhiri dengan kunjungan lapangan pada tanggal 7 Maret 2024, dimana lebih dari 50 peserta mengeksplorasi implementasi konsep "Kota Tangguh" di Makassar, khususnya di Lorong Wisata atau Lorong Wisata dan area penampungan air Nipa-Nipa.

Setibanya di Lorong Wisata, kami disambut dengan hangat oleh delegasi yang dipimpin oleh Ismawaty Nur (Plt. Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika) dan Alamsyah Sahabudiin (Plt. Kepala Dinas Ketahanan Pangan). Camat Tamalanrea, Iqbal, serta Lurah Tamalanrea, Mirawati, juga turut serta dalam rombongan penyambutan, diikuti oleh para pejabat setempat, perwakilan dari pengurus Lorong Wisata, para pelaku UMKM, dan warga setempat.

Lorong Wisata: Sebuah Model untuk Ketahanan Perkotaan

Ismawaty mempresentasikan Lorong Wisata sebagai sebuah inisiatif yang menampilkan praktik-praktik terbaik dalam membangun ketahanan kota. Secara keseluruhan, inisiatif ini bertujuan untuk mengubah setiap lorong di kota menjadi tempat yang semarak, aman, dan berkelanjutan.

Dalam kunjungan ini, kami melihat secara langsung praktik-praktik baik atau keberhasilan kemitraan pemerintah-swasta dalam membangun kota yang berketahanan iklim. Selain itu, Lorong Wisata juga menjadi contoh peran aktif dan krusial dari partisipasi masyarakat atau komunitas dalam menciptakan lingkungan yang berketahanan iklim.

Perempuan sebagai Agen Perubahan

Selanjutnya, kami melihat bagaimana Lorong Wisata merangkul prinsip-prinsip kesetaraan gender, di mana peran perempuan dan laki-laki dibagi secara adil dan dikonseptualisasikan dengan cara yang inklusif dan partisipatif. Bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional, kami merasa bahwa keterlibatan semua pihak, termasuk perempuan, sangat penting dalam membangun dan merencanakan kota yang berketahanan. Ibu Umi, seorang anggota Dewan Lorong, berbagi dengan kami bagaimana kegiatan dibagi secara adil, dengan laki-laki dan perempuan secara aktif terlibat dalam program-program lingkungan dan kemasyarakatan seperti ini, bahkan menjaga kegiatan tetap berjalan selama hari libur.

Kolaborasi untuk Komunitas yang Berkembang

Warga juga secara aktif berpartisipasi dalam berbagai inisiatif, menumbuhkan semangat komunitas yang kuat. Hal ini termasuk upaya kerja sama tradisional (gotong royong), memelihara tempat penampungan komunal, mendukung ekonomi lokal melalui usaha mikro (UMKM), dan mempromosikan tanggung jawab lingkungan dengan mengelola sampah rumah tangga dan secara aktif berkontribusi sebagai anggota bank sampah.

Selain itu, kami juga melihat peran berharga dan kontributif dari kolaborasi antara lembaga-lembaga pemerintah daerah dalam implementasi Lorong Wisata. Sebagai contoh, Dinas Ketahanan Pangan membantu penyediaan tanaman sayur dan buah, mempromosikan pertanian perkotaan dan ketahanan pangan di Makassar karena mereka juga mengedukasi para petani. Dinas Komunikasi dan Informasi memastikan keselamatan dan keamanan di lorong melalui CCTV, sementara Dinas Lingkungan Hidup mengedukasi warga dan mengadvokasi pengelolaan sampah dan daur ulang. Hal ini dilakukan melalui penyediaan fasilitas kontainer di setiap rumah untuk menampung minyak jelantah dan pendirian bank sampah untuk rumah tangga.

Selain itu, Dinas Koperasi dan UMKM memberdayakan warga dengan memberikan pelatihan pengembangan produk rumah tangga dan pemasaran (pelatihan desain produk), membina bisnis lokal seperti jus markisa, keripik bayam, dan berbagai cinderamata khas kota Makassar. Oleh karena itu, Lorong Wisata menjadi contoh bagaimana kolaborasi berbagai pemangku kepentingan dapat memberdayakan masyarakat, bahkan di tingkat lorong.

Kontributor Kesuma Yanti, Field Officer CRIC untuk Wilayah Kalimantan

Posting Terkait

From circular water management to integrated mobility, UCLG ASPAC and Jakarta advance practical climate-resilient urban infrastructure through the Saka Alir WRU and Dukuh Atas Transit-Oriented Development (TOD)

Urban Social Forum ke-10 yang diselenggarakan oleh Kota Kita pada tanggal 9-10 Desember 2023, menyediakan platform yang menarik bagi para peminat dan organisasi perkotaan. Dengan 917 peserta yang terdaftar, forum yang diselenggarakan di berbagai tempat di kota Solo, Jawa Tengah, Indonesia ini bertujuan untuk mendorong diskusi tentang berbagai isu perkotaan. Salah satu dari sekian banyak acara yang menarik adalah acara [...]

Anggota Kelompok Kerja Kota Berketahanan Iklim dan Kota Inklusif menyambut tamu istimewa dalam pelatihan mitigasi iklim kedua di Pangkalpinang. Tiga pemenang EUD "Jadi Juara Lingkungan" menghadiri pelatihan mitigasi iklim Kota Berketahanan Iklim dan Inklusif, Rabu, 22 November 2023.

Forum Perkotaan Asia-Pasifik Kedelapan (APUF-8) yang akan diselenggarakan pada tanggal 23-25 Oktober 2023 akan menjadi wadah untuk mempromosikan solusi dan praktik terbaik perkotaan yang inklusif, berkelanjutan, tangguh, dan aman dengan melibatkan para pemangku kepentingan, konstituen, pakar, dan masyarakat.