Membantu Masyarakat yang Terlantar Akibat Krisis Iklim

Membantu Masyarakat yang Terlantar Akibat Krisis Iklim

Diterbitkan
Kategori
Penulis
Bagikan

Aktivis keadilan iklim terkemuka, Greta Thunberg, pada hari Jumat, 27 Januari 2023, menyerukan agar ada tindakan segera untuk membantu mengatasi dampak perubahan iklim terhadap mereka yang terpaksa meninggalkan rumah mereka, atau pergi untuk mencari kehidupan yang lebih baik.

Dilansir dari situs berita PBB, Greta mengatakan bahwa situasi ini merupakan masalah hidup dan mati bagi banyak orang yang harus mengungsi karena krisis iklim.

Laporan "Risiko Bencana yang Saling Berhubungan" terbaru, yang diluncurkan pada bulan Agustus 2022, dari Institut Universitas PBB untuk Lingkungan dan Keamanan Manusia menyatakan bahwa periode antara tahun 2021 dan 2022 telah terjadi bencana dahsyat yang memecahkan rekor di seluruh penjuru dunia. Sekitar 10.000 orang kehilangan nyawa, dan sekitar $280 miliar kerugian akibat bencana di seluruh dunia.

Ribuan orang lainnya meninggalkan rumah mereka dalam konteks bahaya yang terjadi secara perlahan, seperti kekeringan atau erosi pantai yang terkait dengan kenaikan permukaan laut. Terdapat kesepakatan yang tinggi di antara para ilmuwan bahwa perubahan iklim, yang dikombinasikan dengan faktor pendorong lainnya, diproyeksikan akan meningkatkan perpindahan penduduk di masa depan.

Istilah yang menyesatkan

Siapakah orang-orang yang mengungsi akibat krisis iklim. Dapatkah kita menyebut mereka sebagai "pengungsi iklim"? Badan Pengungsi PBB, UNHCR mendefinisikan istilah "pengungsi iklim" sebagai istilah yang menyesatkan karena dalam hukum internasional, kata "pengungsi" menggambarkan orang-orang yang melarikan diri dari perang atau penganiayaan dan telah melintasi perbatasan internasional.

Perubahan iklim menurut UNHCR mempengaruhi orang-orang di dalam negara mereka sendiri, dan biasanya menciptakan perpindahan internal sebelum mencapai tingkat di mana perubahan iklim mendorong orang untuk melintasi perbatasan. Oleh karena itu, lebih baik menyebut "orang-orang yang mengungsi dalam konteks perubahan iklim" daripada menyebut mereka sebagai pengungsi iklim.

UNHR menyebutkan bahwa tidak ada wilayah yang kebal dari perubahan iklim, namun risiko pengungsian paling besar terjadi di negara-negara yang terpapar bahaya yang tinggi dan memiliki populasi yang besar di wilayah yang tidak memiliki kapasitas atau sumber daya yang memadai untuk melakukan persiapan yang memadai.

Rata-rata 21,5 juta orang mengungsi secara paksa akibat bahaya yang datang secara tiba-tiba - seperti banjir, badai, kebakaran hutan, suhu ekstrem - setiap tahun sejak 2008. Waktunya lagi untuk mendengarkan Greta.

@cricproject 

Posting Terkait

From circular water management to integrated mobility, UCLG ASPAC and Jakarta advance practical climate-resilient urban infrastructure through the Saka Alir WRU and Dukuh Atas Transit-Oriented Development (TOD)

Pada tanggal 5-7 Maret 2024, Proyek CRIC menyelenggarakan Panel Ahli Tematik tentang Ketahanan Perkotaan dan Sistem Peringatan Dini yang diadakan di Kota Makassar, Indonesia. Perwakilan dari 10 kota percontohan CRIC, kota tuan rumah Makassar, dan kota-kota dari Proyek Urban-Act (Medan, Minahasa Utara, dan Padang) menghadiri panel tersebut. Kegiatan ini diakhiri dengan kunjungan lapangan pada tanggal 7 Maret 2024, dimana lebih dari 50 peserta mengeksplorasi implementasi konsep "Kota Tangguh" di Makassar, khususnya di

Urban Social Forum ke-10 yang diselenggarakan oleh Kota Kita pada tanggal 9-10 Desember 2023, menyediakan platform yang menarik bagi para peminat dan organisasi perkotaan. Dengan 917 peserta yang terdaftar, forum yang diselenggarakan di berbagai tempat di kota Solo, Jawa Tengah, Indonesia ini bertujuan untuk mendorong diskusi tentang berbagai isu perkotaan. Salah satu dari sekian banyak acara yang menarik adalah acara [...]

Anggota Kelompok Kerja Kota Berketahanan Iklim dan Kota Inklusif menyambut tamu istimewa dalam pelatihan mitigasi iklim kedua di Pangkalpinang. Tiga pemenang EUD "Jadi Juara Lingkungan" menghadiri pelatihan mitigasi iklim Kota Berketahanan Iklim dan Inklusif, Rabu, 22 November 2023.