Kupang: Mengembalikan Kelangkaan Air Menjadi Kelimpahan Air

Kupang: Mengembalikan Kelangkaan Air Menjadi Kelimpahan Air

Diterbitkan
Kategori
Penulis
Bagikan

Kupang memiliki potensi untuk mengubah kelangkaan air menjadi kelimpahan air jika kota ini mengelola sumber daya airnya secara berkelanjutan dan membangun infrastruktur yang memadai yang memungkinkan penggunaan sumber daya air yang efektif dan efisien.

Temuan ini diambil dari kunjungan Mitra CRIC ke kota tersebut pada tanggal 25-28 Februari 2023. Sara Silva, mitra CRIC dari ECOLISE berkesempatan untuk melihat kondisi kota secara langsung. Ia berbicara dengan para pejabat kota dan bertemu dengan masyarakat yang terkena dampak serta mempelajari bagaimana kota dan masyarakatnya beradaptasi dengan masalah lingkungan yang sedang berlangsung di daerah tersebut.

Selama kunjungan proyek ke Kantor Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Kupang, Sara mendapat informasi bahwa Kupang memiliki musim kemarau/musim panas yang panjang, yaitu selama 8 bulan, dan hanya memiliki 3 bulan musim hujan. Hal ini berkontribusi pada masalah air yang sedang berlangsung di kota Kupang. Kota ini berupaya mengatasi masalah kelangkaan air dengan berkoordinasi dengan mitra terkait seperti perusahaan air minum dan dinas pekerjaan umum.  

Sara, yang juga seorang arsitek lanskap dan fasilitator masyarakat, mengamati, masalah utama bukan hanya kondisi iklim kota, tetapi juga bagaimana mereka mengelola sumber daya air dan mendistribusikan air di daerah tersebut.  

Selain itu, ketergantungan yang berlebihan pada penambangan air tanah dan kurangnya infrastruktur untuk distribusi air dan pemanenan air permukaan telah berkontribusi pada kondisi kota, di mana masyarakat sering mengalami kekeringan parah di musim panas dan banjir di beberapa daerah selama musim hujan.

Sumber daya air di Kupang terdiri dari air tanah dan air permukaan yang berasal dari dua sungai dan mata air. "Memaksimalkan penggunaan air permukaan dan pada saat yang sama mengurangi penggunaan air tanah sangat penting untuk menjaga keberlanjutan sumber daya air di Kupang dan mengurangi bahaya lingkungan," kata Sara. 

Kota ini perlu memperbaiki distribusi air dengan memperbaiki dan memperluas infrastruktur perpipaan yang sudah tua. Jika tidak, perusahaan-perusahaan swasta akan terus mendapatkan keuntungan dari kurangnya infrastruktur distribusi air dengan mengorbankan masyarakat. "Perusahaan swasta mengeksplorasi mata air (air tanah) dan menjual air tersebut kepada masyarakat desa dengan biaya 20-50% dari anggaran bulanan mereka," jelas Sara.  

Sara merancang solusi konkret untuk masalah-masalah ini. Menurut Sara, dua sungai di kota ini: Dendeng dan Liliba, memiliki kapasitas yang cukup untuk memenuhi kebutuhan air penduduk sepanjang tahun. "Satu fasilitas pemanenan dan pengolahan air yang tersedia, bekerja dengan kapasitas yang sangat rendah. Kapasitasnya dapat ditingkatkan dari (kapasitas) 1.000 rumah tangga menjadi 15.000 rumah tangga sambil menunggu jaringan distribusi tersedia (2023-2024)," katanya.  

"Dengan melengkapi dan memelihara jaringan distribusi air untuk stasiun pengolahan air dan reservoir yang sudah ada, serta melengkapinya dengan sistem pemanenan air permukaan, maka kebutuhan air di Kupang akan tercukupi dari sumber air yang dapat diperbaharui," tambah Sara. 

Hentikan Penambangan Air Tanah! 

Sara juga menolak keras beberapa rencana/gagasan untuk membangun pabrik desalinasi untuk air laut dan bendungan bawah tanah untuk air tanah, dengan alasan potensi bahaya sosial ekonomi dan lingkungan. "Penambangan air tanah menguras sumber daya air permukaan, menyebabkan penurunan permukaan tanah dan merusak infrastruktur pipa, menyebabkan air bersih terkontaminasi oleh air asin. Penambangan air tanah bukanlah pilihan yang tangguh dan berkelanjutan," Sara menekankan. Sara menyambut baik peraturan daerah yang sudah melarang penambangan air tanah.  

Proyek CRIC mengamati selama kunjungan bahwa kota ini telah mengupayakan solusi langsung untuk mengatasi kelangkaan air dengan mengembangkan fasilitas pemanenan air dan resapan melalui kerja sama dengan Universitas Gadjah Mada dan para tokoh masyarakat.  

Kami mengetahui dari para tokoh masyarakat bahwa setelah membangun fasilitas resapan air atau sumur di daerah tersebut, masyarakat di Desa Iklim Naioni tidak lagi mengalami kekeringan yang parah. Sementara itu, satu sistem pemanenan air hujan yang telah dipasang di Kampung Iklim Oesapa dapat memenuhi kebutuhan air untuk 5 anggota keluarga selama 2 hingga 3 minggu. Pada tahun 2024, kota ini berencana untuk membangun 8 kampung iklim.  

Intervensi lainnya, kota ini juga akan memiliki 2 bendungan baru yang dibangun oleh pemerintah pusat dan menerapkan area konservasi, yang dilindungi dari pembangunan gedung baru di daerah pegunungan. Dengan semua inisiatif ini, kota ini berharap dapat membalikkan kondisinya dari kelangkaan air menuju kelimpahan air di masa depan. Kondisi yang menggembirakan ini hanya dapat dicapai, hanya jika kota ini dapat menerapkan semua intervensi dan solusi di atas untuk mengelola semua sumber daya air mereka secara berkelanjutan.  

*Hizbullah Arief adalah Manajer Proyek CRIC

Posting Terkait

From circular water management to integrated mobility, UCLG ASPAC and Jakarta advance practical climate-resilient urban infrastructure through the Saka Alir WRU and Dukuh Atas Transit-Oriented Development (TOD)

Pada tanggal 5-7 Maret 2024, Proyek CRIC menyelenggarakan Panel Ahli Tematik tentang Ketahanan Perkotaan dan Sistem Peringatan Dini yang diadakan di Kota Makassar, Indonesia. Perwakilan dari 10 kota percontohan CRIC, kota tuan rumah Makassar, dan kota-kota dari Proyek Urban-Act (Medan, Minahasa Utara, dan Padang) menghadiri panel tersebut. Kegiatan ini diakhiri dengan kunjungan lapangan pada tanggal 7 Maret 2024, dimana lebih dari 50 peserta mengeksplorasi implementasi konsep "Kota Tangguh" di Makassar, khususnya di

Urban Social Forum ke-10 yang diselenggarakan oleh Kota Kita pada tanggal 9-10 Desember 2023, menyediakan platform yang menarik bagi para peminat dan organisasi perkotaan. Dengan 917 peserta yang terdaftar, forum yang diselenggarakan di berbagai tempat di kota Solo, Jawa Tengah, Indonesia ini bertujuan untuk mendorong diskusi tentang berbagai isu perkotaan. Salah satu dari sekian banyak acara yang menarik adalah acara [...]

Anggota Kelompok Kerja Kota Berketahanan Iklim dan Kota Inklusif menyambut tamu istimewa dalam pelatihan mitigasi iklim kedua di Pangkalpinang. Tiga pemenang EUD "Jadi Juara Lingkungan" menghadiri pelatihan mitigasi iklim Kota Berketahanan Iklim dan Inklusif, Rabu, 22 November 2023.