Pengetahuan

Bacaan

Selamat datang di Halaman Bacaan kami, di mana Anda akan menemukan koleksi berita, blog, dan acara-acara kami yang telah dikurasi. Jelajahi berbagai topik yang dirancang untuk menginspirasi dan memberi informasi, menawarkan perspektif dan ide berharga yang dapat Anda nikmati kapan saja.

Readings

Blog

Kupang memiliki potensi untuk mengubah kelangkaan air menjadi kelimpahan air jika kota ini mengelola sumber daya airnya secara berkelanjutan dan membangun infrastruktur yang memadai yang memungkinkan penggunaan sumber daya air yang efektif dan efisien.

Danko Aleksic, dari ACR+ memperkenalkan tidak hanya pendekatan 3R tetapi juga 9R dalam Panel Diskusi Pertama Kota Berketahanan Iklim dan Inklusif di Surabaya pada tanggal 2 Maret 2023. Apa sajakah itu? Oleh: Oleh: Hizbullah Arief* Berbasis di Brussel, Belgia, ACR+ - salah satu mitra CRIC di Eropa - telah menjadi Asosiasi Kota dan Wilayah untuk Pembangunan Berkelanjutan (Association of Cities and Regions for Sustainable [...]

Artikel ini ditulis dalam rangka memperingati Hari Internasional untuk Memerangi Penggurunan dan Kekeringan. Tanah adalah sumber kehidupan karena tanah menumbuhkan tanaman hijau yang akan memberi makan makhluk hidup secara teratur, baik itu tanaman untuk konsumsi manusia maupun rumput untuk memberi makan hewan ternak yang akan bergabung dalam sistem rantai makanan. Tanah memelihara makhluk hidup, terutama [...]

Berita

Empat Walikota terpilih di Pilkada 2020 menandatangani Komitmen Walikota, Senin (31/5), untuk mewujudkan kebijakan dan program pembangunan di daerah yang berketahanan iklim dan rendah karbon. Komitmen ini menandai peran strategis kota untuk mendukung komitmen global Indonesia dalam pencapaian target Nationally Determined Contributions (NDCs) guna mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 29% dengan upaya sendiri dan 41% dengan dukungan internasional pada 2030.

Empat Walikota yang terpilih dalam Pilkada 2020 akan memaparkan program-program perubahan iklim dan menyatakan komitmen mereka terhadap pembangunan yang berketahanan iklim dalam kegiatan “Dialog Kebijakan Ketahanan Iklim dan Penandatanganan Komitmen Walikota untuk Perubahan Iklim,” hari Senin (31/5), pukul 10 WIB.

Proyek Climate Resilient and Inclusive Cities (CRIC) berhasil menyelenggarakan kunjungan kehormatan secara virtual dengan Direktorat Jenderal Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada hari Jumat (30/4) dalam rangka memperkuat kolaborasi yang sedang berlangsung untuk membangun ketahanan terhadap perubahan iklim.

Wilayah pesisir yang berada di dataran rendah rentan terhadap bencana seperti kenaikan muka air laut, angin topan hingga banjir rob. Kawasan pesisir, seperti yang ada di Indonesia, terletak di bawah permukaan air laut. Kerentanan wilayah pesisir kian diperparah dengan pertumbuhan penduduk yang tinggi juga faktor-faktor seperti penurunan permukaan tanah, infiltrasi air laut dan kelangkaan air. Dibutuhkan aksi yang segera untuk mengatasi dampak perubahan iklim di kawasan pesisir.

Ada konsensus yang muncul tentang perubahan iklim sebagai ancaman utama abad ini. Bencana yang dipicu oleh perubahan iklim adalah

Pada tanggal 19 Maret 2021, Kota Berketahanan Iklim dan Inklusif mengadakan lokakarya tentang peningkatan kapasitas pesisir untuk mendukung solusi tangguh iklim terhadap bencana. Acara yang diselenggarakan oleh Pilot4Dev dengan dukungan dari UCLG ASPAC ini menghadirkan solusi dari para ahli dari Eropa, Indonesia, dan India untuk membantu pemerintah daerah di kota-kota pesisir dalam mengantisipasi dampak perubahan iklim.  Acara yang dihadiri oleh lebih dari 80 peserta termasuk pembicara dan panelis ini berlangsung dengan sukses dan menarik minat yang cukup besar dari kota-kota yang berpartisipasi. 

Tata kelola iklim adalah inti dari aksi iklim. Di Kota Cirebon, Jawa Barat, Walikota Drs. H. Nashrudin Azis, SH menegaskan kembali komitmennya untuk mengatasi perubahan iklim melalui promosi upaya pengelolaan sampah yang kolaboratif dan berbasis masyarakat.

Kota-kota di Indonesia diproyeksikan akan menampung setidaknya 72,9% dari total populasi pada tahun 2045. Pertumbuhan kota akan membawa tantangan terkait upaya pemenuhan hak dan layanan dasar bagi kota, terutama di tengah perubahan iklim. Perubahan iklim telah berdampak pada peningkatan bencana hidrometeorologis dan tren ini diprediksi akan meningkat dengan kenaikan temperatur permukaan di seluruh wilayah Indonesia.