Kota Berketahanan Iklim
yang Inklusif

Kota-kota di Indonesia diproyeksikan akan menampung setidaknya 72,9% dari total populasi pada tahun 2045. Pertumbuhan kota akan membawa tantangan terkait upaya pemenuhan hak dan layanan dasar bagi kota, terutama di tengah perubahan iklim. Perubahan iklim telah berdampak pada peningkatan bencana hidrometeorologis dan tren ini diprediksi akan meningkat dengan kenaikan temperatur permukaan di seluruh wilayah Indonesia.

CRIC mengadakan kegiatan FGD dengan tema "Sektor Tematik dan Pengembangan Perangkat" pada tanggal 1-4 dan 11 Februari 2021. Kegiatan ini bertujuan mempertemukan pemerintah kota dari sepuluh kota percontohan CRIC, mitra dan ahli dari Eropa dan India serta pemangku kebijakan dari Kementerian Lingkungan Hidup RI. Dalam FGD, para pihak mendiskusikan potensi solusi dan pengembangan perangkat pada sektor pengelolaan sampah, sistem peringatan dini dan air dan sanitasi. Silakan membaca temuan dan hasil diskusi dengan mengunduh laporan di bawah ini. 

 

Cover FGD

 

Laporan FGD CRIC

Indonesia tengah berpacu dengan waktu. Dalam waktu 10 tahun, di tahun 2030, kita perlu menggenapi komitmen NDC untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 29% dengan upaya sendiri dan 41% melalui kemitraan internasional. Indonesia juga berikrar untuk mencapai 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Peta jalan menuju ke sana telah disusun, namun tantangan juga menghadang. Melalui Climate Resilient and Inclusive Cities (CRIC), UCLG ASPAC bergerak bersama pemerintah kota meretas jalan keberlanjutan mulai dari kota. 

CRIC terlibat dalam Konsultasi Publik Kajian Lingkungan Hidup Strategis-Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (KLHS-RPJMD) Kota Samarinda 2021-2026 yang berlangsung secara daring via aplikasi Zoom pada 10 Desember 2020. Keterlibatan CRIC dalam kegiatan bertujuan memastikan bahwa isu ketahanan terhadap perubahan iklim dan inklusivitas terintegrasi dalam dokumen KLHS-RPJMD. 

CRIC menerbitkan Laporan Kajian Perkotaan 10 kota percontohan, setelah melalui proses penelitian selama tiga bulan dan Konsultasi Publik yang melibatkan pemangku kepentingan di sepuluh kota dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Laporan yang menyoroti tantangan dan peluang kota dalam mengatasi perubahan iklim ini menjadi dokumen penunjang penting dalam proses perencanaan pembangunan kota agar berketahanan iklim dan inklusif. 

Kelompok Kerja di enam dari sepuluh kota percontohan CRIC mengadakan pertemuan Pokja di masing-masing kota, yang berlangsung November – Desember 2020 untuk membahas rencana dan prioritas kerja 2021. Pertemuan ini juga adalah tindak lanjut dari penerbitan Surat Komitmen Walikota dan Surat Keputusan Pembentukan Kelompok Kerja. 

Sejak Oktober hingga Desember 2020, CRIC mengadakan kegiatan seminar daring (webinar) yang dihadiri setidaknya 339 peserta dari 33 kota/kabupaten di Indonesia dari perwakilan pemerintah nasional dan daerah, perguruan tinggi, asosiasi profesi, lembaga swadaya masyarakat dan komunitas lokal. Webinar ini selain menjadi sarana pertukaran pengetahuan juga menjadi perekat koordinasi antarlembaga untuk memperkuat tata kelola perubahan iklim. 

Training banner IND

 

Kota-kota di Indonesia menghadapi tantangan besar di tengah perubahan iklim. Memastikan kota yang tangguh iklim sekaligus inklusif adalah pekerjaan rumah penting, terutama bagi pemerintah kota. Proyek Kota-Kota Tangguh Iklim dan Iklusif (Climate Resilient and Inclusive Cities - selanjutnya disebut CRIC) berkomitmen membantu pemerintah kota mempersiapkan diri.

Proyek CRIC mengadakan pelatihan daring gratis dan terbuka untuk umum, 22-23 Juli, dengan tema "Pembangunan dan Rancangan Kota yang Berkelanjutan". Materi pelatihan ini dikembangkan oleh ISOCARP Institute, lembaga penyebaran pengetahuan yang bergerak dalam isu-isu pengembangan kota. 

Silakan mempelajari agenda pelatihan di sini dan daftarkan diri Anda di sini.

 

 

Sepuluh kota percontohan di Indonesia mengikuti diskusi jarak jauh secara daring, dari 2 hingga 11 Juni, yang dipandu oleh Putra Dwitama, Koordinator Proyek Kota-Kota Tangguh Iklim dan Inklusif (Climate Resilient and Inclusive Cities – selanjutnya disebut CRIC). Diskusi bertujuan mengidentifikasi tantangan dan prioritas pembangunan di tiap kota. Hasil diskusi menunjukkan Proyek CRIC dapat berkontribusi terhadap kota dengan membantu mereka meningkatkan ketahanan dan mengatasi kesenjangan sosial.

Upaya mengatasi perubahan iklim secara global membutuhkan komitmen, perencanaan, kolaborasi dan perangkat yang tepat mulai dari tingkat kota. Inilah inti sari dari hasil diskusi kelompok terfokus secara daring yang dimoderatori oleh Asih Budiati, Manajer Program Kota-Kota Tanguh Iklim dan Inklusif (Climate Resilient and Inclusive Cities – selanjutnya disebut CRIC) pada 29 April, yang diikuti 37 peserta. Diskusi ini bertujuan untuk membahas rencana dan kerangka kerja pelaksanaan Proyek CRIC di sepuluh kota di Indonesia.

Share This

CRIC
Kerjasama unik antara kota, pejabat, organisasi masyarakat sipil, dan akademisi menuju kota yang tangguh dan inklusif.

Didanai oleh UE

CRIC
Proyek ini didanai oleh Uni Eropa

Kontak

Arie Setiawan 

Pascaline Gaborit